Dunia

AS Beri Izin Baru Pembangunan Reaktor Nuklir

Padahal AS pernah mengalami kebocoran reaktor nuklir pada 1979 sehingga izin dibekukan

Jum'at, 10 Februari 2012, 13:25 WIB
Renne R.A Kawilarang
Reaktor nuklir di AS (Reuters/Jonathan Ernst)

VIVAnews - Pihak berwenang AS menyetujui pembangunan reaktor nuklir baru di negara bagian Georgia sebagai pembangkit listrik. Ini merupakan kali pertama AS mengeluarkan izin bagi pendirian reaktor nuklir baru dalam 30 tahun terakhir.

Menurut kantor berita Reuters, izin itu dikeluarkan oleh Komisi Otoritas Nuklir AS (NRC) melalui pemungutan suara 4 banding 1 pada Kamis waktu setempat. Menariknya, satu-satunya petinggi NRC yang keberatan atas izin baru itu adalah ketua mereka sendiri, Gregory Jaczko.

NRC memberi izin kepada perusahaan yang berbasis di Kota Atlanta, Southern Co., untuk membangun dan mengelola dua reaktor baru di kompleks Pembangki Listrik Tenaga Nuklir di Georgia. Proyek senilai US$14 miliar itu ditargetkan bisa mulai beroperasi 2016 atau 2017.

Ketua NRC, yang ikut dalam pemilihan suara soal izin baru itu, mengaku keberatan. Alasannya, AS harus belajar dari bocornya reaktor nuklir di Fukushima, Jepang, akibat gempa bumi dan tsunami pada 11 Maret 2011. Peristiwa itu membuat wilayah di sekitar PLTU Fukushima tercemar radiasi nuklir yang berbahaya bagi keselamatan mahluk hidup dalam radius puluhan kilometer.

"Saya tidak bisa mendukung izin ini bila mengingat peristiwa di Fukushima," kata Jaczko. AS sendiri pernah mengalami kebocoran reaktor nuklir di kompleks PLTU Three Mile Island, Pennsylvania, pada 1979. Peristiwa itu membuat pemerintah AS membekukan pemberian izin pembangunan reaktor baru dalam kurun 30 tahun.

Namun kalangan pendukung pembangunan reaktor nuklir baru menyatakan bahwa proyek itu diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi listri yang besar. Thomas Fanning, Kepala Eksekutif Korporat Southern Co., optimistis bahwa dengan reaktor baru itu PLTU yang mereka kelola bisa menawarkan listrik dengan harga yang lebih murah dan berkelanjutan selama bertahun-tahun di kawasan tenggara AS.

Pemerintah pusat sudah menawarkan pinjaman kepada Southern dan para mitranya sebesar US$8,3 miliar sebagai insentif. Fanning berharap Departemen Energi AS akan menuntaskan pemberian pinjaman di triwulan kedua tahun ini.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
dodee.pranata
14/02/2012
kalau AS nggak ada yg komplain...si ban ki moon pun diam...pbb lontong pun nurut, kalau iran buat..semua ribut, dasar dajjal dunia...
Balas   • Laporkan
shinshi | 18/02/2012 | Laporkan
BENER, SETUJU ,,, dan juga karena iran gak mau jadi budak as, makanya di embargo,, dan media as juga sering bohong
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ