Dunia

Sulit Bayar Impor, Iran Mulai Terapkan Barter

Transaksi keuangannya ke luar negeri diblokir Barat, Iran sulit bayar kebutuhan impor

Jum'at, 10 Februari 2012, 10:38 WIB
Renne R.A Kawilarang, Indrani Putri
Suatu pasar swalayan di Teheran Iran (REUTERS/Morteza Nikoubazl)

VIVAnews - Iran mulai merasakan dampak embargo transaksi keuangan dari negara-negara Barat. Menurut kalangan pedagang komoditas, Iran kini berupaya membarter simpanan emas dan minyak mereka dengan makanan.

Menurut survei kantor berita Reuters, kepada kalangan pedagang komoditas di penjuru dunia menunjukkan bahwa sejak awal tahun ini Iran mengalami kesulitan mengimpor bahan-bahan pokok seperti beras, minyak goreng, pakan ternak, dan teh.

Kapal-kapal kargo pun tertahan di pelabuhan Iran. Mereka menolak bongkar sauh sebelum menerima pembayaran dalam bentuk uang.

Ini menyebabkan Iran mulai memikirkan cara lain, yaitu dengan barter emas atau minyak. "Pembelian gabah dibayar dengan tumpukan emas dan kesepakatan barter itu mulai ditawarkan," kata seorang pedagang komoditas gabah di Eropa. "Beberapa perusahaan pun mulai ikut terlibat," lanjut dia.  

Situasi itu diyakini akibat sanksi baru yang diterapkan Amerika Serikat dan Uni Eropa, yang masih terkait dengan program nuklir Iran. Mereka mempersulit transaksi keuangan internasional ke Iran dan sebaliknya. Ini menyebabkan pemerintah maupun pelaku bisnis Iran sulit membayar kebutuhan impor secara reguler.

Menurut para pedagang komoditas di Asia, pengapalan minyak kelapa sawit ke Iran dari sejumlah penyuplai utama seperti Malaysia dan Indonesia telah terganggu. Pasalnya, para eksportir takut mereka sulit menerima pembayaran dari Iran.

Malaysia dan Indonesia dikenal sebagai produsen minyak kelapa sawit terkemuka di dunia, dengan menghasilkan 90 persen dari total suplai global. Minyak kelapa sawit sangat berguna untuk membuat beragam jenis pangan, mulai dari mentega olahan (margarin) hingga manisan.

"Saya pastikan bahwa perusahaan-perusahaan perantara di Singapura sudah berhenti memasok ke Iran. Kami tidak ingin mendekat ke sana sementara ini karena terlalu riskan," kata seoranng trader untuk perusahaan Singapura yang mengapalkan minyak kelapa sawit dari Indonesia ke Timur Tengah dan Iran.

Seorang pengusaha dari Arab Saudi yang biasa mengelola 16.000 ton minyak goreng setiap tahun di Iran mengaku usahanya kini mulai turun. Seorang pemilik pabrik mentega olahan Rabu kemarin sudah menghentikan produksi sementara waktu karena kekurangan bahan baku.

Dirasakan Konsumen

Imbas kesulitan itu akhirnya terasa di kalangan konsumen Iran. "Kita bisa bangkrut dan mungkin bakal tutup dalam hitungan pekan," kata seorang pemilik toko kue di Ibukota Teheran.

Dia kesulitan mendapat bahan baku untuk membuat kue dan roti. "Semua bahan baku kami datang dari luar negeri. Masalahnya kini kalau bukan karena harga naik tiba-tiba, barang berhenti dipasok," lanjut dia.

Menurut pengamat, sanksi dari Barat itu menyebabkan kegiatan usaha di Iran menjadi lebih mahal dan para pedagang di mancanegara enggan untuk berbisnis dengan Iran. Sebelum ada embargo transaksi keuangan, Iran tidak banyak terpengaruh oleh berbagai sanksi internasional, karena mengandalkan pasokan minyak dalam jumlah besar untuk dijual.

Namun, embargo terkini mempersempit ruang gerak Iran, termasuk dalam menjual minyak."Tujuan dari sanksi itu sederhana saja: untuk menaikkan biaya dari semua kegiatan jual-beli yang terkait dengan minyak Iran hingga menimbulkan kesulitan sedemikian rupa bagi para mitra dagangnya dalam berbisnis dengan Teheran," kata J. Peter Pham, pengamat dari The Atlantic Council.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
zanzibar
02/03/2012
anda pikir pemimpin sunni ga butuh tangan Israel buat meratakan Iran?? Syiah bung, yang Sunni anggap sebagai "bukan agama". jgn munafik deh. Iran pegang kendali, Sunni rata tanah. ga percaya??? biarin aja Iran buat nuklir, and we'll see the end.
Balas   • Laporkan
zanzibar
02/03/2012
sodara2 pada tau nggak, kalau Iran (syiah) bisa buat nuke, yg sunni pada resah semua. anda semua yang mayoritas sunni tau nggak???? okelah kalau israel nanti lebur sama iran, habis itu..ya tetangga sunni nya dilalap pake sambel nuke. tinggal tunggu aje.
Balas   • Laporkan
superden86
19/02/2012
semenjak hak veto dipegang amerika dan sekutunya dunia ini selalu ada peperangan dan itu memang benar2 terbukti,, nah sekarang kasih giliran negara2 mayoritas muslim yg pegang hak veto biar dunia ini damai
Balas   • Laporkan
adhie_japannez
19/02/2012
salut dengan Iran, zionis pada takut amat tuh Iran ngembangin nuklir, trus kalau mereka bebas aja kembanginnya...
Balas   • Laporkan
boycrow
14/02/2012
Allah KAREEEM..
Balas   • Laporkan
allah swt pst mmberi ptunjuuk kpd org" yg berjuang dijalanNya...
Balas   • Laporkan
borneozhakit
12/02/2012
itu cara iran untuk menentang para kapitalis,biarpun didesak terus menerus,doi masih kuat aja. salut buat iran, semoga indonesia merubah haluan agar jadi negara yg g pro lagi sama imprealis kapitalis. hmm
Balas   • Laporkan
wnsryuka
12/02/2012
,, gw cm bisa nonton perkembangannya
Balas   • Laporkan
penonton1
12/02/2012
coba dulu tsunami n gempa ada kaci ke bantuan ke indo. maci bisa kita bantu balek. anda kaya ato bangkrut ga ada hubungan dengan kita, malahan bagus, minyak sawit ga perlu export, mudah2an harga minyak sayur bisa turun!!!
Balas   • Laporkan
penonton1
12/02/2012
Biarin aza Iran hancur. dia banyak duit n kaya aza ga pernah nyumbang bantuan sedikit pun dikala kita kena bencana. Negara egois n pelit!!!
Balas   • Laporkan
monmon | 13/02/2012 | Laporkan
gila aja,brarti loe senang lo negara qt jdi pengemis?terus apa indonesia juga mendukung iran?jgn asal ngomong bung.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ