VIVAnews - Italia, Yunani, dan Serbia mengumumkan status darurat di beberapa lokasi menyusul semakin banyaknya korban tewas akibat musim dingin ekstrem di Eropa. Di Italia, pemerintah kesulitan memenuhi pasokan energi untuk warga dan industri.
Daily Mail, Selasa 7 Februari 2012 melaporkan, pemerintah Negeri Pizza segera bertemu dengan para pelaku industri untuk menyikapi status darurat energi. Kekurangan energi di Italia terjadi setelah Rusia sebagai pemasok energi utama juga tengah diterpa musim dingin yang ekstrem.
"Kita sedang dalam kondisi darurat, yang akan kita sikapi dengan meningkatkan impor bensin dari Aljazair dan negara Eropa Utara via Swiss. Dengan ini, kita bisa bertahan setidaknya sampai Rabu," kata kepala perusahaan energi Italia, Eni Paolo Scaroni.
Beberapa pembangkit tenaga listrik akan beralih sementara ke minyak bumi, dan perusahaan pengguna jasa juga diimbau untuk mengurangi penggunaan listrik sehingga rumah penduduk bisa tetap hangat.
Banyak jalan raya ditutup dan layanan publik terhenti akibat salju dan es. Temperatur mencapai minus 10 derajat Celsius di Italia selatan dan minus 21 derajat Celsius di Italia utara.
Di Serbia selatan, situasi darurat ditetapkan di lokasi 70 ribu penduduk desa yang terisolasi salju tebal. Penduduk juga menghadapi kemungkinan meluapnya sungai Danube dan Ibar. Jika sudah demikian, tentara akan menggunakan bahan peledak untuk menghancurkan es.
Sementara itu di Yunani, wilayah Evros menetapkan status darurat setelah sungai di wilayah tersebut meluap dan menenggelamkan beberapa desa dekat perbatasan dengan Bulgaria. Di Bulgaria sendiri, pemerintah menetapkan masa berkabung sehari setelah sebuah tanggul jebol dan menewaskan sembilan orang.
Sampai saat ini, korban tewas selama 11 hari di seluruh Eropa mencapai 400 orang. Korban tewas terbanyak adalah para tuna wisma. Pemerintah setempat terus menyediakan bantuan makanan dan tenda penghangat ke beberapa lokasi perkotaan. (umi)