Dunia

RI Serahkan Ratifikasi Anti Nuklir ke PBB

Delapan negara lainnya, termasuk AS, masih belum meratifikasi larangan uji coba tersebut.

Jum'at, 3 Februari 2012, 14:20 WIB
Denny Armandhanu, Indrani Putri
PLTN  

VIVAnews - Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa bertolak ke New York, Amerika Serikat, tadi malam untuk menyerahkan instrumen ratifikasi Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji Coba Nuklir (Comprehensive Nuclear Test-Ban Treaty /CTBT) kepada Sekjen PBB. Tinggal delapan negara Annex II yang belum meratifikasi traktat anti uji coba nuklir ini.

Hal ini disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Michael Tene di Jakarta, Jumat 3 Februari 2012. Tene mengatakan, sebagaimana diatur dalam traktat, instrumen ratifikasi harus diserahkan kepada PBB sebagai pihak penyimpan instrumen ratifikasi.

"Upaya ini dilakukan untuk menciptakan momentum mendorong negara lain yang belum meratifikasi untuk mengikuti jejak Indonesia," kata Tene.

Tene mengatakan, sebagai salah satu negara Annex II, Indonesia sengaja menunda ratifikasi CTBT dengan harapan negara yang memiliki nuklir untuk meratifikasi terlebih dahulu. Ratifikasi traktat ini penting untuk segera dilakukan, mengingat selama dua tahun terakhir sudah ada kepemilikan senjata nuklir di tingkat global.

Hingga saat ini, dari 44 negara Annex II yang belum meratifikasi traktat adalah Amerika Serikat, China, India, Pakistan, Korea Utara, Iran, Israel, dan Mesir. Kebanyakan dari negara-negara ini memiliki senjata nuklir. Jika delapan negara telah meratifikasi traktat ini, maka CTBT dapat segera diterapkan dan uji coba ledak nuklir akan terlarang.

Menyusul ratifikasi CTBT oleh Indonesia, berbagai negara menyampaikan ucapan selamatnya. Melihat langkah Indonesia tersebut, beberapa negara di antaranya Inggris dan Australia menyerukan AS untuk melakukan hal yang sama. Presiden Barack Obama sebelumnya mengatakan, CTBT masih dalam pembahasan oleh senat AS. (eh)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
apakah indo pantas punya PLTN,...?? tentu tidak: jembatan baru bangun saja sudah runtuh, apalagi PLTN??....jangan demi uang korup mengorbankan rakyat bangsa & negara ini,....coba pake sedikit hati nurani,,..........
Balas   • Laporkan
banyak pemlik PLTN mau tutup karena resiko jauh lebih besar daripada manfaat. Pertanyaannya PLTN mereka mau dijual kemana ? Tentunya ke negara go blok+ korup. Kalau ada yg usul indo buka PLTN awas,....pasti itu proyek korup.
Balas   • Laporkan
bihum
04/02/2012
nuklir bisa dimanfaatkan untuk listrik. jangan senang dg ucapan selamat dari negara lain. HARUSnya Indonesia harus punya banyak pembangkit listrik tenaga nuklir. ayoo Indonesia bisa!! (^_^)
Balas   • Laporkan
ranisyahbudiman | 28/03/2012 | Laporkan
justru banyak negara nuklir akan tutup PLTN mereka karena resiko jauh lebih besar dari manfaatnya. Lihat kebocoran di Soviet
cintra
03/02/2012
desak itu iran stop percobaan dan pembuatan senjata nuklir !!
Balas   • Laporkan
rdnmz | 03/02/2012 | Laporkan
betul... iran itu blm tentu kebenarannya itu hanya taktik barat
fme_juunin | 03/02/2012 | Laporkan
Yakin Iran bikin snjata Nuklir? msih inget ga dlu Irak diserang amerika n sekutu2nya dgn tuduhan apa.? difitnah pnya senjata Pemusnah Massal tapi ada ga buktinya smpe skrg? amerika sekutu zionis ga akan brenti mnghancurkan negara Islam yang berkembang pes
avik
03/02/2012
kecing....
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ