VIVAnews - Nama baik dan reputasi Kapten Costa Concordia, Francesco Schettino, hancur dalam semalam. Hampir semua orang mencercanya paska karamnya kapal yang ia nakhodai. Ia bahkan diberi predikat "kapten pengecut" karena meninggalkan kapalnya yang karam dan 4.200 penumpang dan kru yang panik diambang maut.
Namun, meski desas-desus ia minum dengan perempuan cantik sebelum celaka, istrinya, Fabiola Russo, tetap membelanya. Dalam sebuah wawancara dengan majalah Italia, Oggi, sang istri mengatakan dengan tegas, suaminya bukan penjahat.
Fabiola akhirnya muncul dan bicara, saat jaksa memperluas penyelidikan atas kasus tenggelamnya kapal pesiar mewah di perairan Pulai Giglio, Italia, 13 Januari 2012 itu. Sejauh ini, 16 jasad telah ditemukan, sementara 16 lainnya masih dinyatakan hilang.
Dalam wawancara di mingguan Oggi, ia menilai ada upaya mengkambinghitamkan suaminya yang menghadapi tudingan berlapis: pembunuhan ganda, meninggalkan kapal, sekaligus menyebabkan kapal menabrak karang. Schettino saat ini berstatus tahanan.
Fabiola Russo yang tinggal bersama Schettino dan putrinya di Meta, Sorrento, dekat Naples, Italia, mengatakan, "suamiku bukan monster. Ia selalu ada untuk para krunya."
Sebaliknya, nahkoda itu justru lebih sering meninggalkan istrinya. "Saya istri seorang pelaut, jadi aku selalu melakukan apa-apa sendiri, mengatasi masalah dan menyelesaikan," kata dia.
Melihat kasus ini, Fabiola menduga, suaminya jadi korban pihak-pihak yang ingin cuci tangan. "Ini seperti perburuan, siapa yang bersalah. Semua orang melihat ke suami saya, media telah membuatnya jadi sasaran tembak."
Fabiola menambahkan, selama karirnya di laut, suaminya sangat mencintai kapal. "Ia tahu segala sesuatu tentang kapal, tak pernah berhenti mempelajarinya, mempelajari bagaimana kemampuan dan keterbatasan."
Schettino, dia menambahkan, tak hanya merasa cukup dengan bisa menjalankan kapal. "Itu mengapa para krunya selalu mengandalkannya, ia seorang maestro. Dia adalah penentu, orang yang stabil, dan jelas. Ia menganalisa situasi, mengerti kondisi, lalu bertindak.
Terkadang, kata dia, suaminya memang terkesan arogan pada orang-orang yang berbicara padanya, bahkan meminta mereka tutup mulut.
Jika ia bertanggung jawab mengapa ngacir duluan?
"Ia tidak bertanggung jawab atas Concordia karena faktor kebetulan. Kadang orang yang tahu soal pekerjaannya, bisa membuat kesalahan."
Dalam interview tersebut, Fabiola sempat menyinggung bagaimana mereka pernah didenda karena berlayar dengan perahu mereka terlalu dekat ke pantai. Soal hobi, "kami suka kano, mendayungnya bersama-sama. Saya dan suami harus menyelaraskan diri."
Sementara, Beniamino Deidda, jaksa dari Tuscany, meminta semua pihak tak hanya menyalahkan kapten, tapi juga pada pemilik Concordia, Costa Cruise. "Untuk saat ini fokus perhatian utama adalah kapten, yang tragisnya tak berbuat banyak di saat kritis. Tapi siapa yang menudingnya," kata dia.
Selain fakta dia meninggalkan kapal, juga harus dilihat, pada kenyataannya, sekoci tak diturunkan secara benar, kru tak tahu apa yang harus dilakukan, mereka tak siap dalam menangani keadaan darurat. "Bahkan ada perintah yang salah yang diberikan, seperti saat memberitahu penumpang untuk kembali ke kabin," kata dia.
Kebingungan yang muncul menunjukkan, kurangnya perhatian terhadap prosedur keselamatan, yang harusnya telah dilatih sebelumnya. "Anda tak bisa membebankan semua kecerobohan itu hanya pada kapten. Itu sebabnya penyelidikan kasus ini tidak bisa mengecualikan orang lain." (Daily Mail, umi)