Dunia

Wikileaks: Aburizal di Mata Dubes Pascoe

"Menunjukkan pengalaman panjangnya berhadapan dengan kreditur internasional."

Kamis, 25 Agustus 2011, 16:59 WIB
Denny Armandhanu
Aburizal Bakrie (VIVAnews/Muhamad Solihin)

VIVAnews - Ketika menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) Aburizal Bakrie dinilai Duta Besar AS untuk Indonesia ketika itu, Lynn Pascoe, kerap menggunakan gaya seorang pengusaha dalam bernegosiasi.  

Hal ini tertulis dalam kawat diplomatik yang dikirimkan Pascoe kepada Gedung Putih yang dibocorkan WikiLeaks, Rabu, 24 Agustus 2011. Dalam kawat bernomor 06JAKARTA1823 tertanggal 13 Agustus 2006 itu, Pascoe mengatakan Aburizal ketika itu terbilang sebagai orang baru di bidang pemerintahan. 

"Bakrie baru di pekerjaan ini, dan kami tidak terlalu serius menanggapi komentarnya soal konferensi Beijing," demikian ditulis Pascoe dalam kawat.

Pernyataan Pascoe merujuk pada konferensi Flu Burung di Beijing pada 8 Februari 2006. Aburizal melansir pernyataan keras bahwa konferensi tersebut telah gagal, karena tidak memenuhi permintaan bantuan dana dari pemerintah Indonesia sebesar US$900 juta. Indonesia kala itu dikabarkan hanya mendapat bantuan sebesar US$150 juta. Dalam kawat disebutkan Aburizal berpandangan bantuan itu terlalu sedikit untuk dapat mengatasi epidemi flu burung yang sedang luas mewabah di Tanah Air ketika itu.

Pascoe melaporkan dalam merundingkan hal ini Aburizal menggunakan gaya dan pengalaman panjangnya di dunia bisnis. "Pendekatannya dalam mendiskusikan bantuan menunjukkan pengalaman panjangnya berhadapan dengan kreditur internasional sebagai pengusaha--dia sering mengajukan jumlah besar karena sadar jumlah akhirnya akan jauh lebih kecil," tulis kawat tersebut.

Pascoe juga menulis bahwa permintaan bantuan dana dari Aburizal untuk membangun dua laboratorium biosecurity level 3 (BSL-3) sebesar US$10 juta dinilai pemerintah AS sulit direalisir. Keinginan pemerintah RI untuk membangun laboratorium ini, demikian ditulis Pascoe, tidak sejalan dengan perkembangan infrastruktur untuk mendukung fasilitas tersebut.

"Misalnya saja, virus polio yang kembali muncul setelah selama satu dekade tidak terlihat. Hal ini mencerminkan bahaya yang ditimbulkan akibat infrastruktur kesehatan yang diabaikan," tulis kawat itu lagi. (eh)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
diana69
26/08/2011
Ada pelangi dimatamu...hehehe
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ