Dunia
Derita Somalia

Ibu Harus Pilih, Anak Mana yang Akan Mati

Pengungsi Somalia berjalan jauh mencari hidup. Di jalan anak mereka tak tahan. Ditinggal.

Sabtu, 13 Agustus 2011, 00:21 WIB
Denny Armandhanu
Bayi-bayi Somalia (AP Photo/Schalk van Zuydam)

VIVAnews - Perjalanan para pengungsi Somalia menuju negara tetangga untuk mencari makan kadang menghabiskan waktu berhari-hari. Dalam perjalanan, seorang ibu tidak jarang terpaksa meninggalkan anak mereka yang tidak berdaya, demi kelangsungan hidup anak yang lainnya.

Kenyataan pahit ini harus dijalani oleh Wardo Mohamud Yusuf, seorang ibu berusia 29 tahun. Wardo telah berjalan selama dua minggu di tengah terik menuju perbatasan Kenya. Di tempat ini, dia berharap mendapatkan makanan dan minuman di tenda pengungsian yang disediakan negara jiran.

Wardo menggendong anak perempuannya yang berusia satu tahun di punggungnya, sementara anak lelakinya yang berusia empat tahun berjalan bersamanya. Dua minggu berjalan dengan makanan dan minuman yang minim, bocah lelaki malang tersebut ambruk.

Wardo langsung memberikan sedikit minuman yang dia bawa di kepalanya kepada putranya. Namun, karena tidak sadarkan diri, bocah itu tidak dapat meneguk air untuk menghilangkan dahaga. Wardo berteriak minta tolong, keluarga dan kerabatnya tidak ada yang berhenti. Mereka tetap berjalan, mengkhawatirkan diri mereka sendiri.

Akhirnya, Wardo harus memilih. Sebuah pilihan yang ibu manapun pasti sulit melakukannya.

"Akhirnya, saya putuskan untuk meninggalkan dia, menitipkannya kepada Tuhan, di tengah jalan," ujar Wardo ketika diwawancara di kamp pengungsi di Dadaab, Kenya, dilansir dari laman Daily Mail, Jumat, 12 Agustus 2011.

Pengalaman serupa pernah dialami oleh Faduma Sakow Abdullahi, janda 29 tahun. Dia mengaku berjalan berhari-hari dari kampung menuju Dadaad bersama lima orang anaknya yang berusia 5, 4, 3, 2 dan seorang bayi yang baru dia lahirkan.

Tinggal sehari lagi sampai di kamp pengungsian, putra dan putrinya yang berusia 5 dan 4 tahun tidak bangun setelah istirahat sejenak di bawah pohon. Air yang dia bawa tinggal sedikit, Faduma mengaku tidak ingin menyia-nyiakan air yang bisa diberikan kepada anak-anaknya yang lain itu.

Dia harus memilih, memberikan air kepada anak-anaknya yang sekarat dan membiarkan bayinya kehausan, atau meninggalkan kedua anaknya di jalan dan memberikan air kepada anaknya yang lain. Akhirnya dia memilih untuk meninggalkan mereka berdua. Ragu, Faduma sempat bolak-balik untuk memastikan kedua anaknya telah tewas.

Baik Faduma maupun Wardo sadar betul apa yang mereka lakukan. Mereka mengaku selalu dihantui rasa bersalah yang teramat besar. Wardo mengatakan dia selalu terbayang putranya ketika melihat anak sebayanya bermain. Dr. John Kivelenge, ahli masalah kejiwaan di Dadaad mengatakan keputusan mereka adalah keputusan yang normal.

"Itu adalah reaksi normal di tengah situasi yang abnormal. Mereka tidak mungkin duduk dan menunggu lalu mati bersama-sama," kata Kivelenge.

"Namun setelah beberapa bulan, mereka akan mengalami post-traumatic stress disorder. Mereka akan mendapatkan mimpi buruk dan kilas balik peristiwa tersebut," lanjut Kivelenge lagi.

Menurut laporan pemerintah Amerika Serikat, kelaparan di Somalia telah menewaskan 29.000 anak-anak di bawah umur lima tahun dalam tiga bulan terakhir. Kelaparan antara lain disebabkan kemarau panjang, mahalnya harga pangan, dan konflik berkepanjangan.

Seorang ayah Somalia menyuapi susu anaknya di kamp pengungsian di Kenya.

• VIVAnews
Rating
Komentar
Asri
20/09/2011
Semoga warga somalia maslhnya dapat teratasi amin... bla perlu negara2 yg memiliki kekeyaan lbih membantunya,,,
Balas   • Laporkan
Anindita Suyana
12/09/2011
pas bulan ramadhan kemaren ada link untuk food for somalia milik ACT (Aksi Cepat Tanggap) BCA 6760302021, BSM 1010001114, Mandiri 1280004593338, BNI 0140765481, Muamalat 3040023015 a/n Aksi Cepat Tanggap
Balas   • Laporkan
budi
06/09/2011
sy tidak bisa berbuat apa2..semoga teman2 saudaraku di somalia sabar ujian ini...iman dan taqwa yang bisa membawa kalian dikehidupan akhirat
Balas   • Laporkan
WVOO 53
18/08/2011
hhhhhhhhhhhiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii,ngeriiiiiiiiii..................
Balas   • Laporkan
nonblok
16/08/2011
kita harus bantu mereka dengan tindakan nyata.. tapi bagaimana caranya.. media seakan tidak benar2 peduli, hanya memberitakan tanpa ada solusi.. sekarang fokus media (dan rakyat) tidak beranjak pada drama politik indonesia featuring nazarudin..
Balas   • Laporkan
Ridwan Faridan
16/08/2011
Sungguh tragis dan miris,,,, Sementara banyak orang yang bercukupan justru membuang makanan/minuman. Semoga cepat ditangani
Balas   • Laporkan
ibunne
16/08/2011
Inalillahi wa inna ilaihi rojuin....Ya ALLah tolonglah mereka, miris bange bacanya ...Ampuni kami semua ya ALLah...sesuangguhnya anak2 itu penghuni surga yang nyata
Balas   • Laporkan
basrol
15/08/2011
huuuuuhuuuuu. jika seandainya kita aja seperti mereka. Ya Allah, ampunilah kami yang kadang selalu membuat mubazir apa yang kami makan, sementara disisi lalin dunia mau minum saja susah
Balas   • Laporkan
bangnapi79
14/08/2011
wahai negara2 di dunia terutama negara muslim, lihatlah saudara kita negara somalia sedang membutuhkan bantuan kita.....!!!!
Balas   • Laporkan
shikajiru
13/08/2011
moga d terima d sisi Allah Amin ya rabbi
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ