Dunia

Militan Al-Shabaab Tinggalkan Ibukota Somalia

Persilakan bantuan makanan masuk atau taktik serang baru?

Minggu, 7 Agustus 2011, 11:40 WIB
Denny Armandhanu
Militan separatis Somalia, al-Shabaab. (Mohamed Sheikh Nor/AP)

VIVAnews - Ratusan tentara pemberontak Somalia dari jaringan militan al-Shabaab meninggalkan pos mereka di ibukota Mogadishu, Sabtu, 6 Agustus 2011. Langkah ini dinilai akan memudahkan pengiriman bantuan bagi para korban kelaparan di kota tersebut.

Perdana Menteri Somalia, Abdiweli Mohamed Ali, mengatakan militan al-Shabaab telah meninggalkan 60 persen dari 90 persen wilayah Mogadishu yang mereka kuasai. Ali mengatakan saat ini pasukan keamanan dari Somalia maupun Uni Afrika telah dikirim ke lokasi yang ditinggalkan tersebut.

"Ini adalah langkah pertama perang kami," ujar Ali dikutip dari laman The Guardian.

Ali mengatakan sekitar 150 tentara al-Shabaab meninggalkan wilayah barat laut Mogadishu. Hal ini, ujarnya akan memudahkan pembagian bahan makanan bagi para korban kelaparan di ibukota.

Namun, Letnan Kolonel Paddy Ankunda, juru bicara pasukan perdamaian Uni Afrika, mengatakan agar pemerintah Somalia tidak lengah. Militan separatis, ujar Ankunda, tidak pernah sepenuhnya melepaskan Mogadishu sejak mereka kuasai pada 2007.

Selain itu, para militan separatis telah melebur bersama masyarakat Mogadishu, hal inilah yang menyulitkan identifikasi pemberontak. "Kami perlu lebih banyak pasukan dari saat ini, wilayah cakupan militan sangat luas dari yang bisa ditangani tentara kami," ujar Ankunda. Saat ini, terdapat 9000 pasukan Uni Afrika di Somalia.

Dugaan awal, pasukan al-Shabaab meninggalkan pos mereka akibat kehabisan logistik atau ada pertentangan di antara para pimpinan. Hal ini dibantah oleh juru bicara al-Shabaab, Sheikh Ali Mohamed Rage, yang mengatakan ini adalah taktik baru mereka.

"Kami akan mundur sebelum menyerang. Kami akan menyerang musuh di manapun mereka berada," ujar Rage.

Somalia tengah dilanda kelaparan akibat konflik bersenjata dan musim kemarau panjang. Dilaporkan lebih dari 29.000 anak balita tewas akibat kekurangan gizi akut dalam 90 hari terakhir. Jika bantuan tidak segera sampai ke tangan para korban, maka dapat dipastikan akan lebih banyak  nyawa balita yang melayang. (eh)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
wisudajimin
13/08/2011
Ya allah angkatlah derita saudaraku di Somalia
Balas   • Laporkan
dipras
@dipras
13/08/2011
Kelaparan Somalia adlh kesalahan bangsa Somalia sendiri yg gk pernah bersatu. Rebut balung tanpa isi. Citra Somalia negatif, negara perompak, negara anarkhi, dan masy. yg saling ego, pembodohan, dan kriminal. Dibutuhkan kesadaran semua pihak bereskan ini.
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ