Dunia

Bocah Somalia Tewas Kelaparan di Kamp

"Anak-anak sekarat karena kelaparan. Kami butuh makanan, rumah sakit, jangan abaikan kami"

Kamis, 21 Juli 2011, 07:57 WIB
Elin Yunita Kristanti
Warga kelaparan di Somalia, Afrika (godsdirectcontact.org)

VIVAnews -- Sepuluh juta warga Afrika, kebanyakan berada di Somalia, dalam kondisi gawat. Mereka membutuhkan bantuan segera, sebelum maut menjemput lantaran kelaparan.

Sebagian warga Somalia -- yang masih bisa bergerak -- menempuh perjalanan jauh ke kamp pengungsi di Kenya. Namun, itu tak berarti mereka bakal selamat. Nasib yang menimpa Aden Ibrahim, misalnya. Di pelataran kamp Dadaab, Kenya, ia menggendong jasad putrinya, Sarah. Bocah itu baru berusia empat tahun. Ia menghembuskan nafas terakhirnya kala fajar.

Beberapa pria mengikuti Ibrahim, menghadap Mekah, menyalatkan jenazah, sebelum memakamkannya dengan balutan kain putih.

Paman Sarah, Ibrahim Hassan Mohammer mengatakan, keluarganya melarikan diri dari Somalia ke Kenya, berharap ada kehidupan yang lebih baik. "Kami tak membawa uang atau apapun," kata dia. "Kami pengungsi, dalam kondisi sekarat karena tak mendapatkan cukup bantuan."

Dia menceritakan, keluarganya tiba di kamp Juni lalu -- lelah dan kelaparan. Namun, alih-alih mendapat bantuan, mereka terpaksa mengemis makanan selama dua minggu. Sarah yang sakit dan kurang gizi dibawa ke klinik terdekat, namun itu tak membantu. Mereka lalu dirujuk ke rumah sakit terdekat yang dioperasikan Doctors Without Borders. Namun, sayang, mereka ketinggalan kendaraan yang secara periodik mengambili para pasien. Sementara, tak ada uang sama sekali untuk menyewa kendaraan umum. "Kami diberi tepung dan jagung, tapi anak yang sakit membutuhkan lebih dari itu."

Mohammed berandai, kalau saja keponakannya segera diobati di rumah sakit, ia pasti selamat. Kini perasaan Mohammed bercampur aduk, khawatir, sedih dan marah. Ia kecewa agen bantuan internasional tak bisa membantu lebih. "Kami mohon pada dunia, bantulah kami," kata dia. "Anak-anak kami sekarat karena kelaparan. Kami butuh makanan, rumah sakit, jangan abaikan kami."

Kamp pengungsian pun jauh dari layak. Ini gambarannya: infeksi saluran pernafasan merebak, tidak ada sumber air dan sanitasi. Para pengungsi terutama anak-anak sekarat karena kelaparan. Tak ada sekolah dan petugas yang mendistribusikan makanan. Beberapa pengungsi bahkan tak tinggal di tenda terpal yang beratap. Mereka hanya bernaung di bawah ranting-ranting yang ditata tak rapat.

Ibrahim yang baru kehilangan putrinya, Sarah kini mengkhawatirkan keselamatan putrinya yang lain, Deka. "Takdir memang Tuhan yang menentukan. Tapi jika terus seperti ini, makin banyak orang yang akan meninggal."

Hanya beberapa langkah dari kamp pengungsi, gurun berdebu tempat Sarah dimakamkan dijuluki 'Bola Bagti' -- di mana orang meninggalkan hewan mereka, dibiarkan mati dan menjadi bangkai. Untuk menguburkan Sarah, Ibrahim dibantu para pengungsi lain yang kelaparan.

Meski tak mendapat upah apapun, sesama pengungsi memperlakukan jenazah Sarah dengan baik. Di atas kuburnya yang dangkal diselimuti gundukan pasir, semak-semak berduri, dan cabang pohon. "Hyena tak bisa meraihnya," kata Ibrahim. "Dia (Sarah) sudah berada di Surga."



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
eddy
02/11/2011
wew . . gila bnar ne orang . .. hahahahaha
Balas   • Laporkan
sky
02/10/2011
bersyukurlah kita sebagai bangsa indonesia, masi tidak sampai ke tahap seperti itu. kita masi dikelilingin oleh hutan dan tanah yang subur. marilah kita bantu Doa sejenak pada waktu hening untuk sodara2 kita yang disana.
Balas   • Laporkan
gatezone
13/08/2011
allah tdk buta dan tidak tuli....... semoga segera mndpt jalan keluar.
Balas   • Laporkan
sidik
12/08/2011
Harus berapa banyak lagi air mata yang menetes membaca berita seperti ini. Bagaimana saya bisa memberi bantuan..?? tolong beri saya informasi...meski sedikit tp semoga memberi arti....amin
Balas   • Laporkan
christine evelyn
10/08/2011
bersyukurlah kita dilahirkan di rumah yang layak, pakaian yang pantas dan makanan yang berkelimpahan........
Balas   • Laporkan
firdaus adha aco
07/08/2011
ya Allah jadikan lah negara mereka menjadi negara maju dunia, dan smoga iman mereka kepada Allah Swt tdk di kurangi,, dan mudah2an di tambah
Balas   • Laporkan
Rini
03/08/2011
semoga mendapat bantuan segera....
Balas   • Laporkan
mbah heru
22/07/2011
mbah merasa prihatin atas kejadian itu,jangan sampai peristiwa di Etopia terulang lg di Somalia. PBB harus segera bertindak kirim bantuan ke Somalia...semoga tidak ada lagi musibah kelaparan yg menimpa penduduk dunia..amiinnnn.
Balas   • Laporkan
Gusti
21/07/2011
Innalillahiwainna ilaihi roojiuun,. Saya turut berduka ats musibah yg da,mudah2n kluarga diberi kesabaran dan rezeky yg cukup,. Amiiiiin,.
Balas   • Laporkan
nayla
21/07/2011
bukan hanya di somalia aja ya yang mengalami kelaparan karena palestine juga mengalami perang,jadi miris banget nglhtnya kenapa bukannya damai aja sih mereka tuh kan kasihan rakyatnya mengalami kelaparan smpai harus meninggal gtu..
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ