Dunia

Persamaan Mubarak dan Soeharto

Patut ditunggu apakah Mubarak bisa seberuntung Soeharto, tidak perlu lari ke luar negeri.

Minggu, 13 Februari 2011, 08:49 WIB
Renne R.A Kawilarang
Seorang demonstran di Alexandria merusak poster Presiden Mesir, Hosni Mubarak (AP Photo)

VIVAnews - Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, menyatakan revolusi di Mesir 11 Februari lalu mirip dengan situasi di Indonesia pada Mei 1998.  Sejumlah media massa internasional pun melihat kesamaan tumbangnya rezim Hosni Mubarak dan mendiang Soeharto 13 tahun lalu.

Baik Soeharto dan Mubarak sama-sama sukses meniti karir di militer sebelum akhirnya memerintah di negara masing selama tiga dekade, Soeharto 32 tahun sedangkan Mubarak 30 tahun. Kedua pemimpin juga memerintah negara yang mayoritasnya adalah umat Islam, namun negara mereka tetap moderat.  

Kolumnis stasiun berita BBC, Jonathan Head, mencatat bahwa kedua mantan pemimpin itu, selama berkuasa menerima dukungan besar dari Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat lainnya dan tidak segan menumpas kekuatan komunis maupun gerakan Islam yang ekstrem. Indonesia era Soeharto dan Mesir di bawah Mubarak dipandang Barat bisa menciptakan stabilitas kawasan dari dua ancaman itu.

Namun, kedua pemimpin itu punya kelemahan yang sama. Rezim mereka digerogoti penyakit korupsi, kolusi dan nepotisme yang parah dan bertindak sewenang-wenang.

Seperti Mubarak dengan Partai Nasional Demokrat, Soeharto berhasil membuat Partai Golkar saat ini menjadi mesin politik utama yang melanggengkan kekuasaannya. Pemilu di Mesir era Mubarak dan Indonesia semasa Soeharto penuh dengan rekayasa dan intimidasi yang akhirnya memenangkan partai utama. Para aktivis di Mesir dan Indonesia saat itu ditangkap dan kebebasan pers dan berekspresi dibungkam.   

Gelombang pemberontakan atas rezim Mubarak dan Soeharto juga dimotori kaum muda, yang sudah tidak tahan lagi diperintah oleh rezim otoriter yang tidak mampu mengatasi krisis ekonomi dan korupsi yang kronis. Indonesia saat itu bermasalah dengan krisis moneter di Asia, sedangkan Mesir tengah dirundung masalah naiknya harga pangan dan komoditas pokok lainnya.  

Harian The Wall Street Journal mencatat, kejatuhan kedua pemimpin itu tampak sama. Kendati tetap keras kepala atas menguatnya gelombang demonstrasi di jalanan, baik Mubarak dan Soeharto terpaksa melepas jabatan setelah tidak lagi didesak oleh militer dan orang-orang kepercayaan masing-masing. Proses alih kekuasaan di Mesir 2011 dan Indonesia 1998 tidak jauh beda.

Pada 1998, Soeharto menyerahkan kepemimpinan kepada Wakil Presiden BJ Habibie. Di Mesir, Mubarak juga melakukan hal yang sama kepada Wakil Presiden Omar Suleiman. Habibie dikenal sangat dekat dengan Soeharto, begitu pula dengan Suleiman di Mesir, yang sebelumnya sangat dipercaya oleh Mubarak sebagai kepala intelijen.

Kemarahan rakyat di Indonesia 1998 dan Mesir 2011 berhasil menumbangkan rezim yang tiran. Namun revolusi di Mesir dan Indonesia juga sama-sama tidak didukung oleh kekuatan oposisi politik yang menonjol. Ini berbeda dengan Revolusi di Iran pada 1979, saat Raja Reza Pahlavi digulingkan oleh rakyat dan saat itu juga muncul tokoh karismatik Ayatollah Khomeini, yang langsung ke panggung kekuasaan.
 
Kini patut ditunggu apakah Mubarak sama beruntungnya dengan Soeharto, yaitu tetap berada di Tanah Air sampai akhir hayat. Begitu menyerahkan kekuasaan kepada Wapres Suleimen, Mubarak meninggalkan Ibukota Kairo ke kota Sharm el Sheikh, yang menjadi lokasi kediaman pribadinya.

Saat lengser dari kekuasaan pada 1998, Soeharto tetap tinggal di rumah pribadinya di Jakarta hingga wafat pada 2008. Sedangkan nasib Mubarak kini masih belum jelas, apakah bisa bertahan di Mesir atau dipaksa lari ke luar negeri, seperti Zine Abidine Ben Ali dari Tunisia dan Ferdinand Marcos dari Filipina. (umi)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
sambash
16/02/2011
amerika kemaren bilang indonesia negara gagal amerika,sekarang muji2 indonesia,.... mank burik amerika,munafik,.....
Balas   • Laporkan
martole
13/02/2011
seharusnya ahmad dhani jujur dong siapa istrinya yang sedang hamil
Balas   • Laporkan
rada_edan | 14/02/2011 | Laporkan
Anaknya Pinkan Mambo, anak Dhani juga kale...?
Arie Reymond Dau
13/02/2011
Pak Soeharto.. buat saya lebih baik dari pemerintahan sesudahnya... para pengamat pakai otaknya pliss... jaman Soeharto nggak kaya sekarang ini Indonesia.. dulu dipemerintahan Pak Harto Indonesia disegani dan ditakuti diASIA TENGGARA.. Sekarang?kenapa??
Balas   • Laporkan
uday2uday | 15/02/2011 | Laporkan
betul..mbah harto masih lebih baik. pembangunan ada arah dan rencananya tersusun rapi. lha sekarang, pembangunannya nggak tentu arah, kalau soal korupsi, lha sekarang makin parah...belum lagi aksi anarkhis dimana2!!! jadi para pengamat mbok ya jujur....
kiky
13/02/2011
mungkin itulah takdir mereka (soeharto & mubarak)
Balas   • Laporkan
petani_kutho
13/02/2011
walau demikian.. era Soeharto tetap lebih baik dari pada era sesudahnya.. kebebasan masa sekarang sepertinya sudah melampaui batas.. tingkat korupsi juga sangat parah..
Balas   • Laporkan
bocah-bocah ngmong opo.......
Balas   • Laporkan
jgn mudah goyah hayo bangun bangsa ini lebih maju lagi
Balas   • Laporkan
namalosaluhut
13/02/2011
Yang pasti SBY sama gaya sama - rasa dengan SOEHARTO. TURUNKAN REZIM PEMBOHONG!!!
Balas   • Laporkan
sibarakaduk
13/02/2011
moderat = gag tegas, mau ikutin arus yg ngetrend, hasil akhirnya 13 thn reformasi korupsi merajalela, hukum negara tak berdaya, agama banyak dinista, kesejahteraan rakyat secara umum menurun, kekayaan beredar digolongan terbatas, kayak gini jd contoh...??
Balas   • Laporkan
hijaungu
13/02/2011
Itu trik AS supaya Mesir meniru pemerintahan Indonesia, padahal pemerintahan Indonesia sampai sekarang belum mandiri secara ekonomi dan politik. untuk kesejahteraan rakyat Mesir, lebih baik tirulah Iran, mereka mandiri, dan bangga dengan negaranya sendiri
Balas   • Laporkan
uday2uday | 15/02/2011 | Laporkan
iran??? Prettt!!! Sampean tanya siapa begitu? coba tanya rakyat iran dengan jujur, apa mereka senang??? sok tau mas hijauungu ini...
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ