Dunia

Arab Saudi: Mubarak Jangan Dipermalukan

Pemimpin Arab Saudi dan Yordania berharap Hosni Mubarak bisa pensiun secara tenang

Kamis, 10 Februari 2011, 14:51 WIB
Renne R.A Kawilarang, Denny Armandhanu
Seorang demonstran di Alexandria merusak poster Presiden Mesir, Hosni Mubarak (AP Photo)

VIVAnews - Arab Saudi dan Yordania meminta Amerika Serikat (AS) tidak terlalu memojokkan Hosni Mubarak terkait gelombang demonstrasi selama beberapa pekan yang menuntut mundur presiden Mesir itu.

Kedua negara Arab tersebut berharap transisi pemerintahan di Mesir bisa berjalan tenang dan tidak tergesa-gesa dengan menunggu mundurnya Mubarak pada September mendatang, seperti yang dia janjikan.

Menurut stasiun berita Fox News, Rabu 9 Februari 2011, sikap Saudi atas konflik di Mesir disampaikan Raja Abdullah bin Abdul Aziz kepada Presiden Barack Obama melalui sambungan telepon pada 29 Januari lalu. Dua diplomat Saudi, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan bahwa Abdullah meminta Obama untuk tidak mendesak Mubarak segera mundur karena bisa mempermalukan dia di mata rakyat Mesir.

Abdullah juga memperingatkan Obama agar tidak mencabut bantuan AS kepada Mesir sebesar US$1,5 miliar, yang diberikan setiap tahun, bila Mubarak tidak segera mundur. Jika ini terjadi, ujar Abdullah, maka Mesir akan bangkrut. Abdullah juga mengatakan bahwa Mubarak haruslah tetap menjabat sampai akhir masa jabatannya pada September nanti, tanpa halangan apapun.

“Mubarak dan Raja Abdullah bukan hanya sekutu, tapi mereka adalah teman dekat, dan Raja tidak ingin melihat temannya dipinggirkan dan dipermalukan,” ujar seorang pejabat senior di pemerintahan Arab Saudi.

Pejabat ini mengatakan bahwa pemerintahan Arab Saudi mulai khawatir atas sepak terjang Barat dalam mendukung demonstran dan mendesak Mubarak untuk mengambil langkah, yaitu mundur. Pejabat ini juga mengatakan bahwa Abdullah pada pembicaraan tersebut mengingatkan bahwa Arab Saudi adalah sekutu satu-satunya AS dalam krisi kali ini.

“Dengan Mesir dalam keadaan rusuh, Arab Saudi adalah satu-satunya sekutu Washington di dunia Arab dan Abdullah ingin Amerika ingat itu,” ujar pejabat yang tidak disebutkan namanya.

Perminta serupa kepada Obama juga diutarakan pemimpin Yordania, Raja Abdullah II. Menurut kantor berita Associated Press (AP), Abdullah II meminta Obama tidak terlalu menekan Mubarak untuk segera turun.

Abdullah II khawatir turunnya Mubarak secara tiba-tiba akan membangkitkan kekuatan militan yang lebih kuat di Timur Tengah. Selain Obama, Abdullah II juga menyampaikan hal ini kepada Menteri Luar Negeri Hillary Clinton dan beberapa pejabat AS lainnya.

“Harus ada transisi kekuasaan yang tenang dan damai di Mesir,” ujar seorang pejabat Yordania yang tidak disebutkan namanya kepada AP saat menirukan percakapan Abdullah II dengan Obama lewat sambungan telepon.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
as as
11/02/2011
ya iyalah, lha wong keduanya sekutu dalam menjalankan rezim tirani. kalau mubarak bisa turun raja arab saudi takut didemo juga oleh rakyatnya... ayo turunkan mubarak...kalau nggak mau turun juga, biar aku doa sama Allah saja biar DIA turunkan paksa!
Balas   • Laporkan
kodapulo
10/02/2011
Pribadi Islami hanya ditampilkan oleh Presiden mesir. Dia tegas trhdp warganya yg tlah trkontaminasi ajaran & demokrasi barat yg bahlul, dan ramah terhadap kehidupan warganya yg islami. Bandingkan dgn Pemimpin Timteng lainnya, Rakus harta, kekuasaan & wnt
Balas   • Laporkan
Ninbus
10/02/2011
setidaknya masyarakat lihat juga apa bagaimana jasa yg telah dilakukan persidennya, kasihlah kehormatan... toh persidennya juga udah janji ga akan naik lagi... ngurus 1 org aja susah apalagi ngurus jutaan org...
Balas   • Laporkan
bio13 | 10/02/2011 | Laporkan
... ngurus 1 org aja susah apalagi ngurus jutaan org...KOQ MAU JADI PRESIDEN???? KALO GAK DI DEMO YAA....JADI PRESIDEN LAGI
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ