VIVAnews - Gelombang protes di Afganistan atas rencana aksi pembakaran al-Quran oleh sebuah sekte kecil di negara bagian Florida, Amerika Serikat (AS) membuat tentara dan diplomat Amerika yang berada di negara tersebut merasa terancam.
Kedutaan Besar (Kedubes) AS di Afghanistan akhirnya mencoba meredakan keresahan di Afganistan dengan menegaskan bahwa mayoritas dan pemerintah AS tidak mendukung aksi tersebut.
Kedubes AS di Kabul, Afghanistan, pada Selasa waktu setempat, mengeluarkan pernyataan menentang aksi pembakaran al-Quran yang digagas oleh pendeta Terry Jones dari Dove World Outreach Center, Florida. Mereka memberikan klarifikasi bahwa tindakan Jones tidak ada hubungannya dengan pemerintah AS, bahkan pemerintah beserta seluruh lapisan masyarakat AS ikut menentang aksi itu.
“Pemerintah AS tidak akan mendukung aksi yang merendahkan agama Islam tersebut, dan memiliki keprihatinan yang mendalam atas upaya yang menyinggung agama atau kelompok etnis tertentu,” tulis pernyataan Kedubes AS seperti yang dikutip stasiun televisi CNN.
Mereka juga mengatakan dalam pernyataannya bahwa AS mengutuk pesan ofensif yang hendak disampaikan oleh Jones. Hal itu, tulis mereka, sangat bertentangan dengan kebijakan pemerintah AS dan sangat menyinggung umat muslim apalagi dalam bulan Ramadhan seperti ini.
“Warga AS dari segala latar belakang agama dan etnis menolak tindakan yang dilakukan oleh kelompok kecil di Florida ini. Warga AS dalam jumlah yang besar telah menyampaikan protesnya terhadap pernyataan yang menyakitkan yang dikeluarkan oleh kelompok ini,” tulis pernyataan ini lagi.
Pernyataan ini menyusul komentar komandan tinggi tentara AS di Afghanistan, David Petraeus, yang mengatakan bahwa aksi ini dapat membahayakan 120.000 tentara AS dan NATO yang masih ada di negara ini. Aksi ini juga dapat mengancam keberhasilan usaha AS di negara muslim tersebut yang telah mereka perjuangkan selama ini. (adi)