VIVAnews - Gelombang protes yang berdatangan dari seluruh dunia dan dari dalam negerinya tidak membuat Terry Jones mengurungkan niatnya untuk tetap melakukan aksi bakar al-Quran. Bahkan dia tidak mengindahkan seruan panglima militer (Amerika Serikat) di Afganistan yang mengatakan tindakannya akan membahayakan tentara AS di sana.
Jones, pendiri sekte Dove World Outreach Center, di Kota Gainesville, negara bagian Florida, menyebut gerejanya sebagai tempat ibadah perjanjian baru, karismatik dan non-denominasi. Di depan gerejanya berjejer papan-papan bertuliskan “Islam of the Devil,” yang juga merupakan judul buku yang ditulisnya.
Jones mengaku prihatin mendengar keluhan komandan tentara AS di Afghanistan, David Petraeus, yang khawatir akan keselamatan anak buahnya jika aksi itu tetap dilancarkan. Namun, Jones tetap keras kepala akan melancarkan aksinya dan mengatakan mereka akan mengirimkan doa bagi para tentara AS di Afghanistan.
“Kami akan terus maju. Kami sebenarnya sangat, sangat, sangat prihatin, tentu saja, dan kami menanggapi kata-kata komandan dengan serius. Kami jelas akan berdoa tentang hal itu. Kami telah menetapkan sikap kami dan bersamaan dengan itu, kami kan mendoakan mereka,” ujarnya seperti dikutip dari laman stasiun televisi Fox.
Jones mengatakan jika terjadi sesuatu pada tentara Amerika maupun warga Amerika lainnya akibat aksinya, maka dia dan gerejanya lepas tangan dan tidak mau bertanggung jawab.
“Kami tidak akan bertanggung jawab, kami hanya bereaksi menentang kekerasan yang memang sudah ada di agama itu (Islam),” ujarnya.
“Inilah waktunya untuk bangkit, inilah waktunya untuk mengirimkan pesan kapada para Islam radikal bahwa kita tidak menoleransi tindakan mereka,” lanjutnya.
Jones mengatakan bahwa gereja-gereja di seluruh Amerika telah mendukung aksinya, namun dia tidak bisa menyebutkan nama-nama gereja tersebut.
Semenjak dia mengumumkan berencana untuk membakar al-Quran pada tanggal 11 September, gerejanya telah menerima pesan yang mengutuk dan mengecam rencana tersebut. Tidak hanya itu, ancaman demi ancaman juga diterima oleh mantan manajer hotel yang pernah bertugas sebagai misionaris di Eropa selama 30 tahun ini.
Agen FBI juga telah mengunjunginya untuk mendiskusikan masalah keselamatannya. Jones mengaku menerima lebih dari 100 ancaman dibunuh, sejak saat itu pula dia memutuskan selalu membawa pistol kaliber 40 di pinggangnya.
Gerejanya, Dove Outreach Center, adalah sebuah sekte yang terlepas dari semua denominasi Kristen. Gereja tersebut mengikuti tradisi Pantekosta, yang meyakini bahwa Roh Kudus dapat menjelma di zaman modern seperti sekarang. Penganut Pantekosta biasanya mengklaim peperangan melawan kekuatan setan.
Tampilan gereja yang dipimpin Jones tidak ubahnya sebuah gudang ketimbang tempat peribadatan. Bangunan batu dengan salib besar menyala menghiasi bagian depan gedung yang berdiri diatas lahan seluas 8.000 m2. Jones dan istrinya, Sylvia tinggal di tempat ini. Tempat ini juga menjadi tempat penyimpanan perabotan yang mereka jual di situs jual-beli eBay. (adi)