Dunia

Sajian Istimewa Khas Oman di Idul Fitri

Hidangan menggiurkan disiapkan sejak hari lebaran pertama hingga beberapa hari berikutnya.

Rabu, 8 September 2010, 02:51 WIB
Petti Lubis, Mutia Nugraheni
Menu pesta bayram (en.momondo.com)

VIVAnews - Oman adalah sebuah negara kesultanan yang terletak di jazirah Arab bagian tenggara. Sebanyak 98,8 persen penduduk Oman memeluk agama Islam. Seperti dikutip dari Omanet.com, masyarakat Oman dikenal dengan keramahannya dan suka mengundang kenalan atau sahabat untuk menikmati kopi khas Oman yang disebut Kahwa dan makan makanan manis yang berbentuk seperti agar-agar, Halwa.

Selama bulan Ramadhan hidangan yang paling populer disajikan saat berbuka puasa atau Iftar, adalah Sakhana yaitu sup yang dibuat dari susu, gandum dan kurma, dan sari tebu. Ada juga menu Fatta, yang merupakan campuran daging dan sayuran, yang disajikan dengan Rakhal Khubz, roti tipis khas Oman.

Oman juga memiliki hidangan khas tersendiri yang khusus tersaji saat perayaan Idul Fitri. Hidangan tersaji dalam piring-piring besar. Makanan yang dimasak di acara-acara penting, seperti Idul Fitri, sangat beragam di berbagai daerah di Oman. Seperti di daerah Dhofar dan Wusta, perayaan dimulai dengan hidangan Al Mudhroub Ruz, yang terbuat dari beras dan disajikan dengan ikan goreng, maqdeed, dan daging kering.

Di Muscat, Al Batinah, Sharqiya dan daerah Dahira, babat diolah dengan bumbu-bumbu seperti kayu manis, kapulaga, cengkeh, merica, jahe, bawang putih dan pala, mendominasi menu. Menu lainnya adalah Arsia, yaitu daging domba dan Mishkak, daging yang dipanggang di atas arang.

Pada hari pertama Idul Fitri, menu makan siang masyarakat Oman adalah Harees, yang terbuat dari gandum dan dicampur dengan daging. Lalu, makan siang pada hari kedua adalah mishkak, dan untuk menu makan malam hingga seterusnya adalah Shuwa. Menu yang satu ini sangat istimea karena hanya dibuat pada acara khusus dan seluruh penduduk desa berpartisipasi untuk memasaknya.

Shuwa terbuat dari daging sapi atau kambing yang dipanggang selama dua hari dalam oven khusus, yaitu lubang yang digali di dalam tanah. Cara memasaknya cukup rumit rumit. Daging terlebih dulu dibumbui dengan lada merah, kunir, ketumbar, jinten, kapulaga, bawang putih dan cuka dan kemudian dibungkus dalam kemasan yang terbuat dari daun pisang kering atau kelapa.

Kemasan ini kemudian dilemparkan ke dalam oven yang telah dibakar, lalu ditutup dan disegel sehingga asap tidak keluar. Di beberapa desa, daging dimasak selama 24 jam tetapi ada juga yang memanggangnya hingga 48 jam karena rasa daging dan perpaduan bumbu akan lebih keluar. Tampak sangat menggiurkan.

Baca juga: Hangatnya Ramadan di Mekah dan Madinah



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
rahmat hidayat
08/09/2010
Kaloo nampilkan kuliner,,tolong sekalian resepnya...
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ