VIVAnews - Belum usai kesedihan akibat bencana banjir, rakyat Pakistan di bulan suci Ramadan ini kembali diguncang serangan teror. Tiga buah bom meledak ditengah iring-iringan umat Muslim Syiah saat berpawai memperingati Hari Asyuro di Kota Lahore, Rabu waktu setempat.
Rangkaian insiden itu menewaskan sedikitnya 25 orang dan 150 warga terluka. Diduga, serangan yang dilakukan oleh kelompok militan Sunni. Kerusuhan pun merebak.
Serangan ini adalah yang terparah sejak Pakistan dilanda bencana banjir sebulan lalu. Selain menarget warga Syiah yang kerap berseberangan dengan militan Sunni, serangan ini diduga juga dimaksudkan untuk menciptakan ketidakstabilan di negara yang bermitra dengan Amerika Serikat (AS) dalam perang melawan teror.
Ledakan bom terjadi di tiga tempat terpisah. Dalam pawai hari Asyuro, sekitar 35.000 warga Syiah tumpah di jalan-jalan kota Lahore. Hari Asyuro adalah hari besar warga Syiah untuk memperingati kematian khalifah Ali, seorang sahabat nabi yang sangat dimuliakan kaum Syiah.
Menurut seorang polisi senior Pakistan yang dilansir dari laman Associated Press, ledakan pertama berasal dari sebuah bom waktu yang diledakkan di dekat sebuah bangunan Syiah. Sebuah rekaman yang ditayangkan di stasiun TV Geo, memperlihatkan ledakan kecil terjadi di tengah kerumunan orang di jalan yang diikuti oleh gumpalan asap tebal.
Pada saat kepanikan terjadi akibat ledakan tersebut, serangan berikutnya yang berasal dari bom bunuh diri meledak di dekat tempat makanan berbuka puasa untuk warga Syiah. Ledakan ketiga juga datang dari bom bunuh diri yang meledak di persimpangan jalan tempat pawai berakhir.
Hameed mengatakan ledakan tersebut menyebabkan kepanikan dan kemarahan dari peserta pawai, kerusuhan pun terjadi. Mereka membakar sebuah pos polisi, dua buah mobil dan tiga buah motor polisi. Polisi menembakkan gas air mata dan tembakan peringatan ke udara untuk membubarkan massa yang beringas.
Perdana Menteri Yousuf Raza Gilani mengutuk ledakan tersebut dan berjanji pelaku akan mendapatkan balasan yang setimpal. Seorang ulama Syiah terkemuka yang juga merupakan senator Pakistan, Abbas Kumaili, juga mengecam serangan tersebut dan menyerukan tiga hari untuk berkabung.
“Mereka adalah musuh kita bersama, Syiah dan Sunni harus tetap bersatu dan tidak termakan siasat jahat mereka,” ujarnya.
Sebelumnya, serangan juga terjadi di beberapa tempat di Pakistan. Beberapa jam sebelum serangan pada pawai Syiah, serangan serupa terjadi di Karachi dan melukai tiga orang. Pada hari yang sama, sebuah bom juga meledak di kota Shabqadar, timurlaut Pakistan, menewaskan satu orang dan melukai 15 lainnya, termasuk seorang petugas polisi.
Militan Sunni terkenal atas serangannya terhadap warga Syiah, non-Muslim dan golongan lainnya yang mereka anggap tidak dapat diterima. Sebelumnya, pada bulan Juli, dua bom bunuh diri meledak di sebuah kuil Sufi dan membunuh 42 orang. Serangan bunuh diri lainnya pada bulan itu terjadi di sebuah mesjid Syiah dan menewaskan delapan orang.
Diduga rangkaian bom bunuh diri ini juga merupakan serangan balasan atas serangan kapal jet dan helikopter militer Pakistan ke tempat persembunyian militan di dekat perbatasan dengan Afghanistan pada hari Selasa dan Rabu waktu setempat.
Menurut petugas keamanan dan saksi mata, serangan ini menewaskan 60 orang militan dan anggota keluarganya, termasuk anak-anak. Militer Pakistan juga melakukan serangan ke Lembah Teerah di wilayah Khyber, menewaskan 45 orang dari militan dan warga setempat. (Associated Press)