Dunia

Menteri Rusia: Mari Perbanyak Rokok dan Miras

Saran kontroversial itu muncul saat Rusia berencana menaikkan pajak rokok dan miras.

Kamis, 2 September 2010, 09:09 WIB
Renne R.A Kawilarang
Unjuk rasa tolak rokok (ANTARA/Rosa Panggabean)

VIVAnews - Banyak-banyaklah menenggak minuman keras (miras) dan merokok, niscaya kesejahteraan rakyat akan meningkat. Petuah ini bukan dari sembarang orang, melainkan berasal dari Menteri Keuangan Rusia, Alexei Kudrin, Rabu 1 September 2010.

Menurut laman The Huffington Post, saran kontroversial itu dilontarkan Kudrin saat Pemerintah Rusia berencana menaikkan pajak penjualan rokok dan miras. Pajak itu, menurut Kudrin, bakal digunakan membiayai program-program kesejahteraan.

"Rakyat harus tahu, mereka yang menenggak miras dan yang merokok berperan besar dalam membantu negara," kata Kudrin. "Bila kalian membeli sebungkus rokok, itu artinya kalian memberi bantuan lebih bagi pemecahan masalah-masalah sosial, seperti mendongkrak demografi, membangun layanan-layanan sosial dan menstabilkan tingkat kelahiran," lanjut Kudrin.

Saat ini, cukai rokok di Rusia termasuk yang terendah di Eropa. Sebagian besar produk rokok dijual dengan harga sekitar 40 rubel (sekitar Rp11.600) per bungkus. Maka, Juni lalu, Kementrian keuangan berencana menaikkan pajak rokok sehingga harganya bisa sebesar 590 rubel (sekitar Rp172.500) per bungkus mulai tahun 2013.

Namun, bisa jadi kenaikan pajak merupakan keputusan yang tidak populer, mengingat 65 persen dari total populasi pria di Rusia adalah perokok. Selain itu, rata-rata orang Rusia bisa menghabiskan 19 liter miras (kebanyakan adalah vodka) per tahun.  (umi)

• VIVAnews
Rating
Komentar
reymino
03/11/2010
keren tuh pa mentri... biar skalian nyadarin tuh para peroko ma pemabuk... klo maksiat itu mahal wkwkwkwkwkwk
Balas   • Laporkan
Rie
07/09/2010
Keren tuh Pa Mentri... encer jg otk ny...
Balas   • Laporkan
muhammad ilham
06/09/2010
kalo berita itu biasa aja yang luar biasa adalah pendemo rokok yang ada di gambar atas padahal mereka adalah perokok juga kok sok anti rokok
Balas   • Laporkan
tony
03/09/2010
aneh tapi nyata... nyari dana tp dgn mengorbankan banyak hal... konyol & bumerang....
Balas   • Laporkan
Rasta
03/09/2010
Akhhhh....... inilahh watakk negara kitaa... Argumenn'y hanya pengen terdengarr pintarr v nyatanya ksong... Yangg nma'y Roko mah mkruhh.... Yangg gk bolehh tuhh MIRAS.... kta bang Haji RHOMA IRAMA...
Balas   • Laporkan
david
02/09/2010
haruse yg kena pajak tinggi tu barang seperti softex aja....khan di dunia jumlah perempuan lebih banyak dr pria...dan ga semua pria tu perokok...nah mana ada perempuan yg ga pake softex....jadi tidak menghalalkan sesuatu yg diharamkan....
Balas   • Laporkan
uti
02/09/2010
Dinar> w setuju banged ama lo,, menurut w mah she mendingan qt membenahi dulu diri kita baru qt benahi diri org lain..... ^^
Balas   • Laporkan
hara
02/09/2010
pintar juga tuh menteri... kalo diterapkan di indonesia, dijamin bakal bisa mengurangi penduduk... perokok dan pemiras bisa cepat mati... jadinya BBM irit, listrik irit, ndak ada macet.... tapi sadar ngak ya kalo perokok ama pemiras itu lagi dikerjain...
Balas   • Laporkan
ucup
02/09/2010
wah bagus sekali sarannya, kalo bisa indo juga bisa menerapkannya. tapi pajaknya 20x kali lipat biar harga rokok perbungkusnya jadi 250 rb. kapok2 deh itu para perokok.
Balas   • Laporkan
ha5an
02/09/2010
hrus dicermati himbauan pak mentri, mmang btul tuh,scara tdak langsung perokok&pemabuk menyumbang ksejahteraan rakyat,anda boleh rokok&mabuk&anda juga hrus trima resiko kematian dri dampak negatifnya,jmlah pnduduk brkurang&prgramnya pmerintah cpat trcapai
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ