VIVAnews - Kemacetan lalu lintas hingga super parah di suatu jalur menuju Beijing bisa berlangsung hingga pertengahan September. Situasi ini bersamaan dengan peringatan pemerintah bahwa ibukota China itu juga mulai kembali bermasalah dengan kemacetan lalu lintas.
Sudah sepuluh hari kemacetan luar biasa melanda sebagian jalan bebas hambatan yang menghubungkan Bejing dengan Tibet. Panjang kemacetan mencapai hampir 100 km. Masalah itu menjadi-jadi sejak proyek pelebaran jalan Beijing-Tibet dimulai pada 13 Agustus lalu.
Beberapa hari setelah pekerjaan pelebaran jalan dimulai, sebagian jalanan utama yang melingkari Beijing ditutup, sehingga menambah beban jalan raya. Zhang Minghai, direktur Biro Manajemen Lalu Lintas kota Zhangjiakou mengatakan situasi ini belum akan kembali normal hingga sekitar 17 September saat konstruksi jalan bebas hambatan yang dinamakan National Highway 110 tersebut dijadwalkan selesai, dan jalur lalu lintas dibuka.
Seperti dikutip dari laman harian The Wall Street Journal, warga desa di sekitar Highway 110 mengambil keuntungan dari kondisi macet tersebut dengan menjual berbagai penganan seperti mie instan di pinggir jalan atau menjajakan di antara sela-sela kendaraan truk dan mobil yang terjebak macet, tentu saja dengan harga makanan yang lebih mahal.
Seorang pengendara truk, Long Jie, menjelaskan di hari normal hanya perlu tiga hari untuk berkendara dari kota batu bara Baotou di Mongolia Dalam ke Beijing. Sekarang perlu waktu satu pekan atau lebih. Penangguhan perjalanan itu membuatnya harus menaikkan harga satu truk berisi batu bara hingga di atas harga normal 12.000 yuan (Rp 15,9 juta) untuk 30 ton kargo. Di sela-sela macet, Long dan supir truk lain menyibukkan diri dengan bermain kartu.
Kemacetan parah di pinggiran kota Beijing terjadi saat pemerintah memperingatkan bahwa lalu lintas di pusat kota juga mulai mengkhawatirkan. Media setempat melaporkan bahwa kecepatan rata-rata kendaraan bermotor di ibukota bisa anjlok hingga di bawah sembilan mil (14.48 km) per jam bila warga Beijing terus membeli mobil baru.
Tingkat penjualan mobil baru di Beijing berada pada angka 2.000 unit mobil per hari. Bila pembelian mobil baru terus terjadi, maka pada 2015 kota Beijing akan memiliki tujuh juta kendaraan. Kecepatan berkendara akan sangat lambat di ibukota negara yang beberapa dekade lalu terkenal dengan sebutan Kerajaan Sepeda tersebut.