Dunia

Tertular Lesunya Wall Street,Saham Asia Turun

Kendati melemah, para pengamat yakin bahwa ekonomi AS tidak akan kembali ke jurang resesi

Kamis, 29 Juli 2010, 16:08 WIB
Renne R.A Kawilarang
Reaksi para pialang Bursa Saham Tokyo melihat turunnya indeks (AP Photo/Koji Sasahara)

VIVAnews - Indeks harga saham di sejumlah bursa utama Asia kali ini mengikuti jejak Wall Street, sama-sama merosot. Penurunan ini terjadi setelah para investor memberi perhatian atas laporan dari bank sentral AS (The Fed), yang memastikan lambatnya pemulihan ekonomi di Negeri Paman Sam.

Pada transaksi Kamis, 29 Juli 2010, indeks Nikkei 225 di Jepang turun 39,74 poin (0,4 persen) menjadi 9.173,96. Investor di Jepang tampak memanfaatkan lonjakan indeks sebesar 2,7 persen pada sehari sebelumnya dengan mengambil aksi ambil untung.

Indeks Kospi di Korea Selatan sedikit melemah 0,1 persen menjadi 1.772 dan penurunan yang sama juga melanda indeks Hang Seng di Hong Kong sehingga menjadi 21.067,52.

Bursa di Australia pun mengalami penurunan indeks sebesar 0,1 persen menjadi 4.526,7. Kemerosotan juga terjadi pada indeks di bursa India, Thailand, dan Singapura. Sebaliknya, indeks di bursa saham China kali ini menguat.

Seperti di Wall Street, laporan dari Bank Sentral (The Fed) turut mengecewakan para investor di bursa saham Asia. Dalam laporan yang terkenal dengan sebutan "Beige Book," The Fed mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi di sejumlah kota seperti Cleveland dan Kansas City tidak mengalami lonjakan yang berarti.

Bahkan pertumbuhan di Atlanta dan Chicago tengah melambat. Aktivitas ekonomi di tempat-tempat lain dikatagorikan "sedang-sedang saja."

Kinerja sektor manufaktur di sejumlah kota seperti New York, Cleveland, Kansas City, Chicago, Atlanta, dan Richmond diberitakan tengah melambat.

Para trader kecewa melihat laporan dari Departemen Perdagangan AS bahwa order untuk barang-barang yang tahan lama (durable goods) pada Juni lalu turun 1 persen. Order tipe barang ini sudah dua bulan berturut-turut mengalami penurunan. Padahal para ekonom memperkirakan bahwa Juni lalu mengalami kenaikan 1 persen.

Kendati pemulihan sedang melemah, para pengamat yakin bahwa ekonomi AS tidak akan kembali ke jurang resesi. "Kami tidak percaya adanya dua kali resesi berturut-turut di AS," kata Stephen Corry, pengamat dari Merrill Lynch Wealth Management.

"Ekonomi global memang akan terus mengalami hambatan, namun itu bukan berarti membawa kemunduran yang serius bagi ekuitas global," lanjut Corry.

Dalam perdagangan valuta, kurs dolar atas yen turun dari 87,44 yen menjadi 87,13 yen. Kurs euro atas dolar meningkat dari US$1,2996 menjadi US$1,3009. (Associated Press)

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ