VIVAnews - Harga minyak mentah di bursa New York berjalan stagnan. Situasi ini tidak biasanya terjadi saat pasar saham tengah bergerak positif di tengah munculnya kabar-kabar yang saling kontradiktif atas perkembangan ekonomi AS.
Menurut laman harian The Wall Street Journal, harga minyak mentah untuk kontrak September pada transaksi Senin sore waktu New York (Selasa dini hari waktu Asia) tidak beranjak dari US$78,98 per barel. Di bursa London, harga minyak Brent hanya turun 1 sen menjadi US$77,44 per barel.
Para trader di pasar minyak dihadapkan pada dua kabar yang kontradiktif. Di satu sisi, mereka antusias atas kabar bahwa pasar perumahan di AS Juni lalu naik 23,6 persen setelah bulan sebelumnya anjlok saat berakhir program insentif pajak pembelian rumah dari pemerintah. Tingkat kenaikan penjualan rumah baru itu lebih besar dari proyeksi.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menaruh perhatian atas laporan dari Bank Sentral di Dallas bahwa survei kinerja manufaktur lokal menunjukkan hasil yang mengecewakan. Indeks produksi lokal Juni lalu turun drastis dari 20,8 pada bulan sebelumnya menjadi -1,9 poin.
Laporan negatif dari Bank Sentral Dallas itu membuat harga minyak urung bergerak naik sehingga stagnan.