VIVAnews - Burqa merupakan pakaian yang bisa memberdayakan dan memberikan martabat bagi perempuan muslim.
Demikan dikatakan Menteri Lingkungan Inggris, Caroline Spelman, menanggapi keputusan parlemen Prancis baru-baru ini memperkenalkan larangan pemakaian burqa di tempat umum, Senin 19 Juli 2010.
Sebagai Menteri Lingkungan, Spelmen merupakan perempuan berkuasa kedua di kabinet Inggris. Berbagai kritikan terhadap pemakaian burqa dilontarkan sejumlah kalangan yang tidak suka bila kaum perempuan menutupi wajah mereka, terutama bila dipaksa melakukan itu oleh kaum pria.
Namun, Spelman mengatakan bahwa memakai burqa bisa dipandang sebagai sebuah tindakan feminis. Pendapat Spelmen itu diakuinya muncul saat dia berkunjung ke Afganistan.
Kunjungan tersebut, kata Spelman seperti dikutip dari laman The Telegraph, mempengaruhi pandangannya terhadap burqa. Menurutnya, burqa menganugerahkan martabat bagi perempuan.
"Salah satu hal yang membuat kita bangga pada diri kita di negara ini adalah kebebasan. Bebas untuk memilih apa yang kamu kenakan adalah juga bagian dari kebebasan itu, jadi mencekal burqa jelas bertentangan dengan pendapat saya mengenai negara ini," kata Spelman.
"Saya sudah pernah berkunjung ke Afganistan dan saya kira saya memahami mengapa banyak perempuan muslim ingin memakai burqa," tuturnya.
"Bagi mereka, burqa memberikan martabat, itu pilihan mereka, mereka memilih untuk keluar rumah dengan berpakaian burqa. Saya mengerti budaya tersebut berbeda dengan budaya saya. Tapi kenyataannya adalah di negara ini, perempuan ingin bebas memilih apakah mereka ingin atau tidak ingin pergi di siang hari dengan berbusana burqa," tambah Spelman. (hs)