VIVAnews - Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mendukung para diplomat Indonesia di mancanegara untuk memanfaatkan Facebook, Twitter, maupun situs-situs lain. Laman-laman jejaring sosial itu dipandang efektif untuk menyebarkan misi diplomasi dan budaya Indonesia kepada berbagai khalayak.
Kepada VIVAnews, Natalegawa menyatakan dirinya tidak bermaksud membatasi para diplomat Indonesia di mancanegara untuk memanfaatkan laman-laman jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter, atau situs lain, dalam menjalankan misi diplomasi.
"Setiap perwakilan memiliki otonomi atau kebebasan untuk menetapkan media yang paling efektif, karena memang faktanya sekarang media seperti Facebook, Twitter, sangat efektif," kata Natalegawa dalam perbincangan khusus dengan VIVAnews di kantornya, Kementrian Luar Negeri (Kemlu) di Jakarta, Jumat 11 Juni 2010 [untuk mengetahui wawancara yang lengkap bisa klik di sini].
Menurut Natalegawa, keleluasaan memanfaatkan laman-laman jejaring sosial itu bertujuan agar penyampaian informasi tidak lagi tersendat (bottleneck) hanya karena masalah prosedur.
"Kami di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) juga sedang mencoba lebih sistematis, tanpa bottleneck, tanpa membatasi sehingga jangan sampai jadi terlalu lamban," tutur mantan Duta Besar Indonesia untuk Inggris dan PBB itu.
Menurut dia, dengan konsep Facebook, Twitter, itu berarti sesuatu yang terjadi di suatu belahan dunia pada saat yang sama diketahui bahkan bisa dipantau oleh khalayak ramai, semua serba instan.
Kini, masalahnya sekarang bukan pada kekurangan informasi, namun justru bagaimana mengolah sekian banyak informasi. Bagi Natalegawa, kesimpang-siuran informasi itulah yang disebut sebagai fenomena paradox of plenty.
"Tapi akhirnya berbagai kesimpangsiuran itu satu persatu bisa diklarifikasi setelah menyelidiki faktanya. Jadi Kemlu dalam konteks seperti itu harus bersikap cepat dan juga tetap harus ada kehati-hatian," kata Natalegawa. (hs)