VIVAnews - Yukio Hatoyama akhirnya mengundurkan diri dari jabatan Perdana Menteri Jepang, Rabu 2 Juni 2010. Dia merasa bersalah telah melanggar janjinya selama kampanye pemilu, yaitu menutup pangkalan militer Amerika Serikat (AS) yang terletak di selatan Pulau Okinawa.
Janji itu tidak mampu diwujudkan Hatoyama sehingga mengundang kemarahan publik dan ditinggal sekutu politiknya. Hatoyama - yang baru delapan bulan menjadi Perdana Menteri - juga menghadapi tekanan yang kian kuat dari dalam partai yang dipimpinnya, Partai Demokratik Jepang, menyangkut isu itu.
Sejumlah jajak pendapat juga mengungkapkan bahwa popularitas Hatoyama kian menurun setelah dia tidak mampu melobi AS untuk menutup pangkalan militer Futenma, seperti yang diinginkan penduduk setempat.
Bagi publik Jepang, kegagalan ini memandakan bahwa Hatoyama bukanlah pemimpin yang tegas. Dengan demikian, Hatoyama adalah pemimpin keempat bagi Jepang yang mengundurkan diri selama empat tahun terakhir.
Hingga Selasa malam, Hatoyama masih bertekad tetap bertahan sebagai perdana menteri saat dia bertemu dengan para anggota utama Partai Demokratik Jepang. Namun, pada Rabu pagi, Hatoyama berubah pikiran. Dia memilih mundur dari jabatannya.
"Sejak pemilu tahun lalu, saya berupaya mengubah politik yang akan menempatkan rakyat Jepang sebagai karakter utama," kata Hatoyama saat mengumumkan pengunduran diri dari jabatan Perdana Menteri dalam siaran televisi nasional.
Dia mengakui upaya itu tidak berhasil. "Itu lebih karena kegagalan saya," kata Hatoyama.
Pekan lalu, Hatoyama mengatakan akan tetap menghargai perjanjian dengan AS yang dibuat pada 2006, yaitu memindahkan pangkalan militer asal Negeri Paman Sam itu dari selatan ke bagian utara Okinawa. Kebijakan itulah yang mengundang kemarahan penduduk Okinawa, yang menuntut agar pangkalan militer AS itu ditutup selamanya.
Didirikan setelah Perang Dunia Kedua, pangkalan militer Futenma milik Marinir AS itu dihuni oleh lebih dari setengah dari 47.000 personil Amerika di Jepang. Bagi penduduk setempat, para tentara AS yang bertugas di pangkalan militer itu sering membuat masalah - mulai dari kasus pelanggaran kecil hingga perkosaan.
(Associated Press) mt