Dunia

PM Thailand: Kami Tak Akan Mundur

PM Abhisit mengatakan akan melaksanakan intervensi militer untuk mengakhiri aksi protes.

Minggu, 16 Mei 2010, 07:51 WIB
Indra Darmawan
Demonstran anti pemerintah Thailand (AP Photo/Apichart Weerawong)

VIVAnews - Bentrokan berdarah yang terjadi di Thailand belum menunjukkan tanda-tanda bakal berakhir.

Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva dalam sebuah pernyataan resmi yang disiarkan melalui televisi, menyatakan bahwa pemerintahannya tidak akan mundur sedikit pun.

"Kami tidak bisa membiarkan suasana di mana sekelompok orang mempersenjatai diri dan hendak menggulingkan pemerintahan hanya karena mereka tidak setuju. Kami tidak akan mundur, karena yang kami lakukan adalah demi kemaslahatan banyak orang," Abhisit seperti dikutip dari BBC.

Massa demonstran adalah para pendukung bekas Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, yang tersingkir lewat kudeta militer 2006. Dikenal sebagai kelompok kaos merah, mereka rutin berdemonstrasi di Bangkok menganggap pemerintahan Abhisit ilegal dan sarat konspirasi. Mereka menuntut pembubaran pemerintahan dan segera digelar pemilihan umum.

Abhisit mengatakan, pemerintah akan melaksanakan intervensi militer untuk mengakhiri aksi protes yang kembali marak pekan ini. Ia berjanji akan berusaha mengembalikan situasi menjadi kembali normal dengan sesedikit mungkin korban yang jatuh. "Apa yang pemerintah lakukan bersama pasukan keamanan, adalah melakukan langkah-langkah yang dirasa perlu," katanya.

Sabtu kemarin, bentrokan antara tentara dengan para demonstran kaus merah menewaskan enam orang demonstran. Ribuan oposisi kaus merah masih bertahan di sekitar wilayah distrik bisnis Rajprasong. Di sana, dipasang barikade dengan pipa-pipa, bambu, beton, serta ban-ban yang dibakar.

Tentara memperkuat pasukan mereka dan mengepung sekitar daerah itu. Juru bicara militer Kolonel Sansern Kaewkamnerd mengatakan bahwa hingga kini, sedikitnya 5000 demonstran masih bertahan, namun jumlahnya menurun sekitar 50 persen dari jumlah semula."Bila para pengunjuk rasa tidak mengakhiri aksi mereka, kami akan memasuki kamp mereka," kata dia.

Hingga kini, sekitar 170 orang sipil mengalami luka-luka sejak bentrokan terjadi, Kamis lalu. 27 demonstran dijebloskan ke penjara, masing-masing dihukum enam bulan penjara. Pemerintah menyebutkan, lebih dari 50 orang tewas, dan setidaknya  1.500 terluka sejak demonstrasi dimulai sejak pertengahan Maret.

Aksi semakin menjadi-jadi pada Kamis pekan ini, setelah Jenderal Khattiya Sawasdipol, seorang tokoh jenderal yang mendukung aksi protes, ditembak di bagian kepala oleh seseorang yang hingga kini tidak diketahui jati dirinya. Saat ini, jenderal yang lebih dikenal sebagai Seh Daeng itu kondisinya masih kritis. (hs)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ