VIVAnews - Belum ada tanda-tanda bakal berakhirnya konflik politik berdarah di Thailand. Ibukota Bangkok hingga Jumat siang, 14 Mei 2010, terus menjadi ajang pertempuran antara massa demonstran anti pemerintah dengan pasukan keamanan.
Massa demonstran, yang terkenal dengan julukan kaos merah, membakar sebuah bus kepolisian di dekat kantor Kedutaan Besar Jepang dan Amerika Serikat (AS) di pusat kota Bangkok. Peristiwa itu terjadi setelah aparat menembakkan gas air mata untuk meredam kericuhan pasca bentrokan kemarin yang menewaskan satu orang.
Bentrokan yang terjadi sejak demonstran Kaos Merah mulai turun ke jalan pada 12 Maret lalu sejauh ini telah menewaskan 30 orang dan melukai ratusan lainnya. Kemarin, salah seorang pemimpin aksi, Mayor Jenderal Khattiya Sawasdiphol atau Seh Daeng, ditembak di bagian kepala dan hingga kini kondisinya masih kritis.
Seorang fotografer Associated Press melihat demonstran menyulut api yang segera membakar sebuah bus di dekat kantor polisi. Mereka lari saat sebuah mobil pemadam kebakaran tiba untuk memadamkan api.
Lokasi kejadian terletak di dekat sebuah stasiun kereta bawah tanah, yang telah ditutup sejak Kamis kemarin, dan dekat dengan kedutaan Jepang dan AS - yang juga ditutup untuk mengantisipasi aksi kekerasan. Kedutaan Besar Belanda dan Inggris, yang juga berada di sekitar lokasi, juga ditutup.
Pasukan militer bergerak mendekati gerombolan demonstran di Wireless Road, lokasi pembakaran bus. Sedangkan suara tembakan terdengar di sekitar lokasi tersebut, tetapi belum jelas siapa yang menembak.
Suara tembakan juga terdengar sepanjang malam hingga pagi tadi di pusat kota Bangkok. Menjelang siang, sejumlah demonstran menahan dan merusak dua truk gas air mata.
Massa demonstran, yang sebagian besar merupakan pendukung mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, bersumpah tidak akan menyerah hingga pemerintah dibubarkan sekaligus digelarnya pemilihan umum secepat mungkin. (Associated Press) (hs)