VIVAnews - Sejumlah pemerintah menutup kantor perwakilan diplomatik mereka di Bangkok. Mereka menilai bahwa krisis politik berdarah di ibukota Thailand itu belum juga mereda setelah muncul sejumlah kekerasan baru.
Laman The Australian mengungkapkan bahwa tiga kedutaan besar (Kedubes) di Bangkok, Kamis 13 Mei 2010, memutuskan menutup kantor mereka. Tiga kedubes itu adalah Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Belanda. Lokasi tiga kedubes itu berdekatan dengan basis-basis massa demonstran anti pemerintah.
Penutupan dilakukan setelah militer Thailand menyatakan akan mengepung basis-basis demonstran mulai Kamis sore pukul 18 agar jumlah mereka tidak bertambah dari luar kota.
Juru bicara Departemen Luar Negeri (Deplu) AS, Phillip Crowley, membenarkan kabar bahwa Kedubes AS di Bangkok tutup. "Kedutaan tutup dan layanan untuk warga Amerika hanya bersifat darurat," kata Crowley dalam jumpa pers di Washington DC seperti dikutip di laman Deplu AS.
Menurut Crawley, penutupan itu terpaksa dilakukan karena Kedubes AS dekat dengan salah satu lokasi unjuk rasa, yang berpotensi berubah menjadi ajang baku hantam antara demonstran dengan pasukan keamanan.
Seorang juru bicara Kedubes Inggris, seperti dikutip laman The Independent, mengungkapkan bahwa kantornya hari Jumat menutup layanan visa dan konsuler. Kedubes Inggris menyatakan bahwa kantor akan dibuka hingga situasi sudah dinilai kembali aman.
Seorang diplomat Belanda mengungkapkan pihaknya telah mewanti-wanti warganya di Bangkok untuk waspada akan adanya kekerasan baru saat militer Thailand berencana menumpas basis-basis massa demonstran.
Finlandia sejak bulan lalu telah memindahkan kantor kedutaannya di Bangkok untuk sementara waktu. Pasalnya kantor kedutaan dekat dengan lokasi demonstrasi.
Setidaknya 30 orang tewas dan sekitar 1.000 lainnya cedera akibat demonstras anti pemerintah, yang telah berlangsung selama dua bulan di Bangkok.
Dalam kekerasan terakhir, sedikitnya satu orang tewas dan delapan luka-luka setelah bentrokan antara massa demonstran dengan pasukan keamanan. Bentrokan terjadi setelah seorang jenderal yang memimpin milisi demonstran ditembak di bagian kepala oleh penembak jitu. Tim dokter kini berupaya menyelamatkan nyawanya.
Sementara itu pemerintah Thailand sedang memberlakukan status darurat di 17 provinsi, yang menjadi basis massa demonstran.
Mereka adalah massa pendukung mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, yang tersingkir lewat kudeta militer 2006. Dikenal sebagai kelompok kaos merah, mereka selama dua bulan terakhir berdemonstrasi di Bangkok untuk menuntut agar pemerintahan pimpinan PM Abhisit Vejjajiva dibubarkan dan segera digelar pemilihan umum.