VIVAnews - Seorang jenderal pembangkang di Thailand masih dinyatakan kritis setelah ditembak di bagian kepala. Dia adalah Mayor Jenderal Khattiya Sawasdiphol, yang dikenal berseberangan dengan pemerintah dan memimpin milisi demonstran.
Khattiya sempat diduga tewas seketika saat tersungkur akibat aksi penembak jitu. Penembakan terjadi saat Khattiya sedang diwawancara wartawan di Bangkok, Kamis 13 Mei 2010. Namun, para pendukung langsung membawa dia ke rumah sakit terdekat.
Petugas medis Phetpong Kamchornkitjakarn mengungkapkan bahwa Khattiya - yang populer dengan julukan Seh Daeng - tampaknya masih bisa diselamatkan kendati kepalanya mengalami luka parah akibat tembakan itu. Menurut laman Bangkok Post, peluru yang mengenai dahi Khattiya itu menembus bagian leher.
Khattiya lalu dibawa ke Rumah Sakit Hua Chiew, yang terletak di dekat lokasi penembakan. Dibantu dengan alat bantu pernafasan, Seh Daeng langsung dibawa ke ruang operasi. Tim dokter berupaya menyelamatkan dirinya.
Menurut saksi mata, saat itu Khattiya sedang bercakap-cakap dengan wartawan New York Times di dekat stasiun kereta bawah tanah Silom, yang berbatasan dengan basis demonstran. Stasiun itu dikelilingi gedung-gedung pencakar langit sehingga muncul dugaan kuat bahwa Khattiya dihabisi oleh penembak jitu.
Si wartawan, Thomas Fuller, mengaku terkejut dengan penembakan itu. Sebelum penembakan, Fuller saat itu bertanya kepada Khattiya apakah militer akan melancarkan operasi pemberantasan dan apakah mereka bisa menembus barikade massa demonstran.
"Dia sempat menjawab 'Militer tidak bisa masuk ke sini,' sebelum akhirnya terdengar letusan tembakan. Dia kemudian langsung terjatuh," kata Fuller. "Dia menatap ke arah saya. Saya kira peluru tembakan itu melewati kepala saya dan mengharah ke dahi korban," lanjut Fuller.
Dalam wawancara dengan kantor berita Associated Press, 90 menit sebelum ditembak, Khattiya juga mengaku sudah mengantisipasi bahwa militer tampaknya akan kembali turun tangan untuk membubarkan massa demonstran.
Sebagian besar demonstran adalah massa pendukung mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, yang tersingkir lewat kudeta militer 2006. Dikenal sebagai kelompok kaos merah, mereka selama dua bulan terakhir berdemonstrasi di Bangkok untuk menuntut agar pemerintahan pimpinan PM Abhisit Vejjajiva dibubarkan dan segera digelar pemilihan umum.
Antisipasi Khattiya tampaknya memang tepat. Malamnya, terdengar letusan senjata api setelah pemerintah memutuskan memblokade 10.000 massa Kaos Merah, yang telah melumpuhkan rutinitas di Bangkok.
Sebagian jalan-jalan utama berubah menjadi medan pertempuran setelah Khattiya ditembak. Massa demonstran pun melawan polisi dan tentara dengan lemparan batu. Petugas keamanan pun membalas mereka dengan tembakan senjata api. Demikian ungkap juru kamera Associated Press, Raul Gallego.
Khattiya dikenal sebagai jenderal pembangkang dan belakangan dicap sebagai teroris oleh pemerintah. Dia sudah dinonaktifkan dari Angkatan Darat Januari lalu dan sejak bulan lalu menjadi buronan pihak keamanan.
Khattiya juga dianggap bertanggungjawab atas serangkaian aksi kekerasan yang dilakukan massa Kaos Merah dan membentuk milisi bersenjata.
Namun, Khattiya seolah tak gentar dengan berbagai ancaman dan kejaran petugas keamanan. Dia bahkan sering berjalan-jalan di tempat terbuka dan meladeni wawancara dengan wartawan serta terkadang membubuhkan tanda tangan kepada para pendukungnya.