Dunia

Menlu Thailand: Kami Tidak Perlu Dibantu

Sambil menghargai perhatian Indonesia, Thailand masih yakin bisa mengendalikan situasi

Kamis, 29 April 2010, 10:57 WIB
Renne R.A Kawilarang, Harriska Farida Adiati
Marty Natalegawa (kanan) bersama dengan Menlu Thailand, Kasit Piromya (ANTARA/Widodo S. Jusuf)

VIVAnews - Pemerintah Thailand tidak memerlukan intervensi dan bantuan pihak luar untuk mengatasi krisis politik yang tengah terjadi. Namun, Thailand menghargai negara-negara tetangga, seperti Indonesia, yang peduli dan menawarkan diri ikut menemukan jalan keluar atas konflik di Negeri Gajah Putih itu.

Demikian kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Thailand, Kasit Piromya, usai bertemu Menlu Indonesia, Marty Natalegawa, di Jakarta, 29 April 2010.

"Kami bisa mengontrol situasi, dan ini merupakan urusan dalam negeri di Thailand," kata Kasit. Dia melanjutkan bahwa pemerintah Thailand berusaha menyelesaikan masalah melalui peraturan hukum dan mencoba berbicara dengan para demonstran agar bersedia berunding.

"Kami sudah katakan pada demonstran, masyarakat, dan masyarakat internasional secara umum bahwa tidak ada keperluan intervensi komunitas internasional saat ini," kata Kasit.

Meski demikian, kata Kasit, pemerintah Thailand menghargai kesediaan negara-negara luar untuk membantu, terutama Indonesia, dan juga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
 
Kedatangan Kasit ke Indonesia bertujuan untuk memberikan apreasiasi terhadap kepedulian dan kesediaan pemerintah Indonesia membantu mengatasi krisis di Thailand. Dia ingin memberikan informasi secara langsung kepada pemerintah Indonesia mengenai situasi yang terjadi di negaranya dan upaya pemerintah Thailand saat ini.

"Mengingat Indonesia rekan yang dekat dan baik, daripada mendapat informasi melalui media, kami kira akan lebih baik untuk datang dan memberikan informasi secara langsung," kata Kasit. "Kami percaya pada prinsip-prinsip demokrasi dan kami sedang menerapkannya," lanjutnya.
 
Sementara itu, Marty menjelaskan bahwa kedatangan Kasit ini merupakan suatu proses untuk mengikuti informasi mengenai situasi di Thailand. Indonesia, bila diperlukan, sudah dalam posisi siap untuk memberi bantuan.

"Ini persoalan dalam negeri [Thailand], tapi berdasarkan pengalaman Indonesia sendiri di masa lalu, temasuk ketika ada perkembangan-perkembangan sulit, itu juga membawa dampak ke kawasan secara keseluruhan, karena itu kita peduli," kata Marty.

Marty menilai tidak ada suatu penyelesaian yang instan. "Diplomasi itu adalah proses membangun kepercayaan bahwa pihak ini adalah pihak yang bisa bantu, yang bisa jadi fasilitator. Jadi biarkan mengalir," kata Marty.
  
Selain membahas mengenai krisis Thailand, kedua menlu juga membahas perkembangan di ASEAN, perkembangan hubungan bilateral, dan perkembangan di negara masing-masing.

Sementara itu, krisis politik di Thailand belum segera berakhir. Bahkan Rabu malam kembali terjadi kekerasan di Bangkok dan sekitarnya.

Kantor berita Associated Press mengungkapkan, seorang prajurit tewas ditembak saat berupaya menghalau para demonstran yang ingin memperluas aksi unjuk rasa sampai ke pinggiran Bangkok. Selain itu, sedikitnya 18 luka-luka akibat bentrokan antara militer dengan demonstran.

Sebagian besar demonstran adalah massa pendukung mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, yang tersingkir lewat kudeta militer 2006. Dikenal sebagai kelompok kaos merah, mereka selama berminggu-minggu berdemonstrasi di Bangkok untuk menuntut agar pemerintahan pimpinan PM Abhisit Vejjajiva dibubarkan dan segera digelar pemilihan umum. Namun, permintaan itu hingga kini tidak diluluskan pemerintah. (hs)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating