VIVAnews - Sekitar 20 orang warga Tibet yang diasingkan dan dipenjara di Nepal menggelar aksi mogok makan, Rabu 17 Maret 2010. Mereka menuntut agar segera dibebaskan dari penjara.
Kepolisian Katmandu telah diperintahkan untuk segera membawa para tahanan itu ke rumah sakit bila kondisi kesehatan mereka memburuk. Ke-23 warga Tibet tersebut ditangkap pada 10 Maret dan 14 Maret lalu karena menentang pencekalan pemerintah China terhadap segala bentuk aksi protes, dengan mengepung kantor pengurusan visa di Kedutaan Besar China di Katmandu.
Mereka dijatuhi hukuman penjara selama 90 hari di bawah hukum keamanan publik yang mengizinkan otoritas mengambil tindakan terhadap orang yang dianggap merupakan ancaman bagi masyarakat.
Warga Tibet di Nepal terus menerus menentang pemerintah China sejak 2008. Sikap warga Tibet itu mempermalukan pemerintah Nepal yang menginginkan peningkatan hubungan dengan China.
Nepal mendapat tekanan dari China untuk menghentikan protes, sekaligus tekanan dari negara-negara Barat untuk membiarkan aksi protes berlangsung. Pemerintah Nepal sendiri mengatakan tidak akan membiarkan aksi protes menentang negara-negara sahabat berlangsung.
Ribuan warga Tibet tinggal di Nepal, dan ratusan orang diizinkan melewati Nepal untuk menuju Dharmasala, India, di mana pemimpin spiritual Dalai Lama tinggal. China mengklaim Tibet sebagai teritorinya, tetapi kebanyakan warga Tibet mengatakan, wilayah Himalaya tersebut independen selama berabad-abad hingga pasukan China menginvasi pada tahun 1950-an. (AP)