Dunia

Suku Bunga di AS Tetap, Saham Asia Menguat

Kabar dari Eropa turut mendukung penguatan indeks saham di Asia

Rabu, 17 Maret 2010, 13:31 WIB
Renne R.A Kawilarang
Seorang pialang memakai kostum tradisional di Bursa Saham Tokyo (AP Photo/Katsumi Kasahara)

VIVAnews - Indeks harga saham di sejumlah bursa utama Asia bergerak naik pada transaksi Rabu sore, 17 Maret 2010. Mengikuti reaksi di Wall Street, para investor di Asia antusias atas hasil rapat Bank Sentral AS, The Fed, Selasa lalu.

Indeks Nikkei 225 di Jepang naik 53,27 poin (0,5 persen) menjadi 10.774,98. Begitu pula indeks Hang Seng di Hong Kong lompat 361,51 poin (1,7 persen) menjadi 21.384,44 dan indeks Kospi di Korea Selatan menguat 21,49 poin (1,3 persen) menjadi 1.669,50.

Peningkatan indeks juga melanda bursa di China, Australia, dan India - masing-masing sebesar 0,8%, 1%, dan 0,6%.

Para investor merasa lega atas jaminan dari The Fed, yang tetap tidak menaikkan suku bunga, yang saat ini mendekati nol persen. Bagi investor, suku bunga rendah itu masih tetap diperlukan untuk pemulihan ekonomi AS.

Namun pimpinan The Fed harus mengantisipasi naiknya inflasi bila suku bunga rendah tetap dipertahankan. Namun, untuk saat ini inflasi masih bisa dikendalikan. 

Para investor menanggapi positif atas hasil rapat pimpinan The Fed pekan ini, yang menyatakan bahwa pelaku bisnis di AS telah meningkatkan belanja mereka secara signifikan, terutama dalam peralatan dan piranti lunak. Bank Sentral juga menyatakan bahwa sektor lapangan kerja di AS mulai berjalan stabil.

Laporan mengenai sektor tenaga kerja itu memiliki bobot yang lebih besar ketimbang yang dinyatakan The Fed usai rapat Januari lalu. Namun, The Fed masih mewanti-wanti bahwa para pelaku bisnis masih banyak yang enggan melakukan perekrutan.

Kabar dari Eropa turut mendukung penguatan indeks saham di Asia. Lembaga pemeringkat kredit The Standard & Poor's mendukung upaya-upaya pemerintah Yunani untuk menata sektor fiskal demi mengatasi krisis utang. Dukungan itu meredakan kekhawatiran bahwa Yunani bisa mengalami penurunan peringkat utang dan terancam gagal bayar. 

Sementara itu, di perdagangan valuta, kurs dolar atas yen menguat dari 90,22 yen menjadi 90,40 yen per dolar. Namun dolar melemah atas euro, yaitu dari US$1,3769 menjadi US$1,3783 per euro. (Associated Press)

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ