Dunia

Jaminan The Fed Membuat Harga Minyak Naik 2%

Kenaikan harga minyak juga dipicu oleh turunnya kurs dolar atas euro

Rabu, 17 Maret 2010, 07:43 WIB
Renne R.A Kawilarang
Reaksi para pialang di New York melihat pergerakan harga minyak (AP Photo/Mary Altaffer)

VIVAnews - Harga minyak mentah di bursa New York naik lebih dari dua persen setelah para investor antusias mendengar hasil rapat pimpinan Bank Sentral AS (The Fed) pekan ini.

Menurut laman harian The Wall Street Journal, harga minyak light sweet untuk kontrak April pada transaksi Selasa sore waktu New York (Rabu dini hari WIB) naik US$1,90 (2,4 persen) menjadi US$81,70/barel. Di bursa London, harga minyak Brent naik US$1,13 (1,5 persen) menjadi US$79,02/barel.

Seperti di bursa saham Wall Street, para investor minyak merasa lega atas jaminan dari The Fed, yang tetap tidak menaikkan suku bunga, yang saat ini berkisar 0% hingga 0,25%. Bagi investor, suku bunga rendah itu masih tetap diperlukan untuk pemulihan ekonomi AS.
 
Pengumuman The Fed itu muncul jelang berakhirnya transaksi di bursa minyak. Namun, harga sudah melambung akibat keyakinan para pelaku pasar bahwa tidak akan ada perubahan tingkat suku bunga.

Situasi ini menguburkan kekhawatiran sehari sebelumnya bahwa The Fed bisa saja mulai menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi dan mengurangi stimulus fiskal. Kenaikan suku bunga dipandang bisa memperlambat laju pemulihan ekonomi di AS sekaligus membatasi tingkat permintaan minyak.

Kenaikan harga minyak juga dipicu oleh turunnya kurs dolar atas euro. Penurunan itu bersamaan atas mulai meredanya kekhawatiran atas krisis utang di Yunani, salah satu pengguna euro, setelah mendapat bantuan dari Uni Eropa. Kondisi ini membangkitkan kepercayaan atas euro. 

Melemahnya dolar membuat harga minyak pun naik karena tingginya antusiasme investor pemegang mata uang non dolar untuk memborong kontrak minyak.

"Kenaikan ini tampaknya berasal dari melemahnya dolar dan berlanjutnya reli di bursa saham sehingga menutup penurunan dalam dua hari berturut-turut," kata Gene McGillian, pengamat dari Tradition Energy seperti dikutip The Wall Street Journal



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ