VIVAnews -- Perdana Menteri Thailand, Abhisit Vejjajiva, menanggapi tenang tuntutan para pengunjuk rasa untuk mundur. Dalam pernyataan yang ditayangkan langsung melalui stasiun televisi, Abhisit mengatakan bahwa dia tidak akan mundur dan juga tidak akan membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Thailand, Senin 15 Februari 2010.
Puluhan ribu demonstran anti-pemerintah mengepung markas besar Resimen Infanteri ke-11 di Bangkok, tempat Abhisit diamankan menyusul aksi unjuk rasa pekan lalu. Mereka menuntut agar parlemen dibubarkan dan pemilihan umum digelar.
"Saya tidak dapat menanggapi permintaan para demonstran," kata Abisit dengan tenang, seperti dikutip dari laman Times. "Saya sudah mendengarkan tuntutan pemrotes, tetapi saya juga mendengarkan kelompok lain di masyarakat yang ingin agar pemerintah tetap bekerja,"
Pada Senin sore, juru bicara militer mengatakan, empat granat dilempar dari sebuah mobil pick up ke pangkalan militer. Abhisit telah mengeluarkan hukum pengamanan khusus dan 30 ribu personel telah dikerahkan ke ibukota untuk berjaga.
Juru bicara pemerintah, Panitan Wattanayagorn, mengatakan, beberapa demonstran "Kaos Merah"- sebutan bagi kelompok anti-pemerintah, melakukan provokasi agar militer merespon dengan aksi kekerasan, sehingga mayoritas publik akan berbalik melawan Perdana Menteri.
Abhisit menjamin militer tidak akan menggunakan kekuatan untuk mengatasi para pengunjuk rasa. Namun Abhisit mendesak agar para demonstran tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum.