VIVAnews - Harga minyak mentah untuk perdagangan Asia di awal pekan ini merosot hingga berada di bawah US$81 per barel. Para investor khawatir anjloknya permintaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) bukan pembenaran terhadap reli harga minyak belakangan ini.
Berdasarkan transaksi elektronik dari bursa New York, Senin siang waktu Singapura, harga minyak light sweet untuk stok April turun 40 sen menjadi US$80,84 per barel. Jumat pekan lalu, harga minyak naik 60 sen menjadi US$82,09 per barel.
Harga minyak naik tajam dari level US$69 pada awal Februari karena ekspetasi bahwa menguatnya perekonomian AS akan mengangkat permintaan minyak mentah. Namun, konsumsi minyak tetap rendah, dan harga minyak berada di posisi paling rendah US$80-an selama pekan lalu.
"Permintaan AS terhadap minyak anjlok," kata konsultan energi Stephen Schork dalam laporannya. "Sampai kita melihat penurunan jumlah pengangguran dan peningkatan kepercayaan konsumen, kita akan tetap berjaga-jaga akan adanya kemungkinan resesi dua kali lipat," lanjut Schork.
Investor akan mengawasi pertemuan Federal Reserve pekan ini kalau-kalau pembuat kebijakan akan menaikkan tingkat suku bunga yang sejak resesi diturunkan hingga mendekati nol. Sementara itu, harga minyak Brent turun 40 sen menjadi US$78,99 per barel di bursa London. (Associated Press)