VIVAnews - Para investor di bursa-bursa saham utama Asia mengakhiri transaksi Senin, 15 Maret 2010, dengan hasil mengecewakan. Indeks rata-rata turun akibat sejumlah laporan terkini ekonomi dari Amerika Serikat (AS) tidak secara tegas memperkuat tanda-tanda pemulihan. Investor pun resah.
Indeks Nikkei 225 di Jepang turun 19,26 poin (0,2 persen) menjadi 10.732,00. Indeks Hang Seng di Hong Kong pun melemah 0,9 persen menjadi 21.026,92. Di Korea Selatan, indeks Kospi turun 0,8 persen menjadi 1.648,42. Penurunan indeks harga saham juga melanda bursa di China, Australia, dan India.
Menurut para pengamat, investor sebenarnya cukup antuias mendengar laporan ekonomi yang diumumkan AS Jumat pekan lalu. Ini berdasarkan menguatnya penjualan ritel di AS bulan lalu, yang nilainya lebih besar dari proyeksi.
Namun, muncul pula data bahwa indeks kepercayaan konsumen di AS kian melemah. Kabar ini mengecewakan banyak investor, pasalnya indeks itu menjadi barometer penting dalam mengukur tingkat belanja konsumen di AS - yang merupakan elemen paling penting dalam pemulihan ekonomi di Negeri Paman Sam.
Kini, para investor menunggu hasil rapat pimpinan Bank Sentral, baik di AS dan di Jepang, pekan ini. Selain itu, mereka mengharapkan perkembangan kabar atas bantuan Uni Eropa dalam menyelamatkan anggotanya, Yunani, dari krisis utang.
Sementara itu, harga minyak mentah untuk perdagangan Asia melalui transaksi elektronik dari bursa New York siang tadi mengalami penurunan 42 sen menjadi US$80,82/barel. Pada transaksi di New York Jumat pekan lalu, harga minyak juga sudah turun 87 sen.
Di perdagangan valuta, kurs dolar atas yen turun dari 90,65 yen menjadi 90,61 yen per dolar. Namun nilai tukar dolar atas euro menguat, yaitu dari US$1,3741 menjadi US$1,3685 per euro. (Associated Press)