VIVAnews - Ribuan demonstran anti-pemerintah di Thailand kembali melakukan aksi unjuk rasa, yang telah berlangsung sejak pekan lalu. Kali ini mereka ramai-ramai menuju suatu markas militer di Bangkok, Senin 15 Maret 2010.
Di tempat itulah Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva dikabarkan bersembunyi. Para pendukung mantan PM Thaksin Shinawatra berkaus merah itu menuntut agar pemerintah dan parlemen Thailand yang sedang berkuasa saat ini dibubarkan dan segera mengumumkan pemilihan umum (pemilu).
Sekitar 100.000 demonstran "Kaos Merah" memberikan tenggat waktu hingga siang hari bagi Abhisit untuk memenuhi tuntutan mereka.
Lebih dari 50.000 tentara, polisi, dan personel keamanan lain telah dikerahkan di Ibukota Bangkok, dan sejumlah besar aparat keamanan disebar di markas besar Resimen Infanteri ke-11 di mana Abhisit "disembunyikan" dalam beberapa hari terakhir menyusul demonstrasi massal para penentangnya.
Ribuan pemrotes dengan membawa spanduk, diangkut menggunakan truk, sepeda motor, atau berjalan kaki menuju kompleks markas besar Resimen Infanteri. Pemerintah kota mengkhawatirkan kekacauan lalu lintas di pusat Bangkok. Namun di beberapa bagian lain di Bangkok, secara mengejutkan lalu lintas cukup lancar karena para pekerja kantoran memilih tinggal di rumah untuk mengantisipasi kemungkinan unjuk rasa berbuntut kericuhan.
Namun para pengunjuk rasa berhasil membuktikan janji mereka bahwa aksi protes yang merupakan salah satu aksi protes terbesar beberapa tahun belakangan akan berlangsung damai.
Pada demonstrasi utama Minggu kemarin, musik pop mengalun kencang. Jajanan kampung seperti salad pepaya pedas bersaing dengan pidato pemimpin unjuk rasa untuk menarik massa. Para peserta demonstrasi sebagian besar datang dari provinsi-provinsi lain. Demonstrasi bernuansa festival itu makin meriah dengan ratusan peserta baru yang baru mendarat dari kapal-kapal berbendara merah di Sungai Chao Phraya.
Para pengunjuk rasa, yang secara resmi dikelompokkan dalam United Front for Democracy melawan Kediktatoran, fleksibel dalam soal taktik dan tenggat waktu.
Namun mereka teguh menuntut Abhisit untuk membubarkan parlemen dan menggelar pemilihan umum yang mereka yakini akan mengembalikan kekuasaan koalisi politik mereka. (Associated Press)