Dunia

Kontroversi Konvensi Atheis di Australia

Seorang filsuf menyatakan, tiga dari empat penderma terbesar abad 20 adalah atheis

Senin, 15 Maret 2010, 08:38 WIB
Arfi Bambani Amri
Richard Dawkins (arstechnica.com)

VIVAnews - Para orang yang tak percaya Tuhan ini datang dari segala arah: dari Perth, Sydney, Brisbane, Selandia Baru, Amerika Serikat, Inggris, dan lain-lain. Ada pasangan bulan madu. Ada yang baru berpaling dari iman Katolik. Tujuannya satu, Melbourne Australia.

Seorang warga keturunan Irak yang telah bermigrasi ke Australia 40 tahun lalu memberikan 4.000 dolar uangnya untuk acara ini: Konvensi Atheis Global 2010. Dia menjadi satu dari 2.500 orang yang mendapatkan tiket masuk ke acara di Melbourne Convention Centre.

"Namun apakah Anda bisa tak bicara apapun?" kata seseorang bertanya pada David Nicholls, Presiden Yayasan Atheis Australia dan salah satu panitia acara. Dan pertanyaan itu terjawab, setiap sesi selalu kekurangan waktu bagi pembicara untuk memaparkan pandangannya.

Konvensi ini adalah buah pikiran Stuart Bechman, Presiden Aliansi Internasional Atheis. Bechman kehilangan kepercayaan ketika berkuliah, meninggalkan agama Kristen Methodis yang dianut keluarganya. Bechman mengaku tersesat dalam ketidakpercayaan.

"Sebagian atheis dibesarkan seperti itu," ujar Bechman kepada The Australian. "Sebagian lagi datang dari latar belakang relijius. Saya kira mereka mereka yang datang dari latar belakang relijius menjadi atheis karena kemarahan telah ditipu atau semacam itu, atau mereka semakin mendekat dan mengerti bahayanya," kata Bechman. Bechman lalu memutuskan untuk berorganisasi karena dia merasa butuh untuk "melawan bahaya."

Dan dia lalu berpikir mengadakan pertemuan global para atheis. Melalui jaringannya, jadilah acara digelar mulai 12-14 Maret 2010.

Di luar bayangan, tiketnya terjual habis. Sejumlah tokoh-tokoh terkenal yang secara terbuka menyatakan diri atheis menjadi pembicara. Mulai dari penulis Richard Dawkins, filsuf Peter Singer, sampai penulis yang difatwa hukum pancung di Bangladesh, Taslima Nasrin, hadir dalam acara ini.

Dawkins bicara mengenai bahaya agama. Taslima yang datang dengan pengawalan tiga orang berjas itu bicara tentang masa kecilnya sebagai anak dari keluarga Islam di India. "Mengapa kita harus sembahyang dalam bahasa Arab, jika Tuhan adalah Maha Tahu, bukankah dia mengerti sembahyang dalam Bahasa Benggali?" katanya bertanya pada ibunya di saat kecil.

John Perkins, ekonomis yang terkenal lewat bukunya "A Confession of an Economic Hit Man" bicara mengenai Islam and terorisme. Peter Singer, filsuf Australia, bicara mengenai dunia ethis yang ditempati bersama oleh yang percaya dan tak-percaya.

Tak lupa Singer bicara, tiga dari empat dari penderma terbesar di abad 20 adalah atheis: Bill Gates, Warren Buffet dan Andrew Carnegie. Hanya Nelson D. Rockefeller yang menganut Protestan.

Sementara di dalam ruangan sedang berlangsung pembicaraan hangat mengenai agama dan kepercayaan itu, beberapa orang penganut Kristen dengan terbuka menyebarkan buku dan tulisan di luar tempat acara. Seorang warga Selandia Baru, Ray Comfort, tampak sibuk membagikan kopian buku teori evolusi "Origin of Species" di kampus-kampus termasuk Universitas Melbourne.

Kopian itu memasukkan edisi khusus dukungan terhadap teori penciptaan yang ditulis sendiri oleh Comfort. Bagi Comfort, teori evolusi tak pernah terbukti.

"Inilah kota di mana saya selama 12 tahun, mencurahkan hati di sudut bicara. Lebih dari 3.000 kali saya berdiri di atas kotak dan berbicara di keramaian agar orang memikirkan Tuhan."

Sementara itu, sebuah organisasi Kristen berencana menandingi pertemuan para atheis dengan membuat sebuah seminar pada Minggu siang di tempat yang sama.

• VIVAnews
Rating
Komentar
iron maiden
05/10/2011
kaum beragama banyak buang sampah sembarangan, sementara kaum atheis banyak yg sadar lingkungan, kaum beragama banyak yg membunuh bawa2 nama tuhan, sementara kaum atheis saling menghormati kemanusiaan
Balas   • Laporkan
Putu Swastawa
04/10/2010
atheis lebih mengacu kepada ketidaksetujuan kepada konsepsi tuhan sebagaimana agama, terutama konsep monotheis yang ternyata tidak relevan. dan ternyata atheis ini adalah paling berkembang dan sesuai science/iptek. salam bahagia
Balas   • Laporkan
asep
04/10/2010
Ber Agama sangat bagus, tapi jangan ber-Agama tapi ber hobby KORUPSI.
Balas   • Laporkan
krisno
15/03/2010
Tidak ada yg salah dg atheisme. Kalau memang tidak percaya, mengapa harus pura-pura percaya? Yang penting adalah saling menghargai kepercayaan atau ketidakpercayaan masing-masing.
Balas   • Laporkan
imin
15/03/2010
dari teori judi, menjadi ateis adalah suatu kebodohan. Orang beriman yakin atas kehidupan setelah kematian. Kalo tidak ada Tuhan, maka setelah kematian selesai, dan orang beriman tidak menderita kerugian apapun. Tapi kalo benar ada Tuhan....kecian deh lw.
Balas   • Laporkan
jane
15/03/2010
faith is too personal too be discussed. Different measurement cant be adjust. Blessed be those Atheist. God loves you! even if you dont.
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ