Hidayat: Pengamanan Obama Jangan Seperti Bush
Pengamanan Bush 100 persen dilakukan pihak Amerika Serikat
Sabtu, 13 Maret 2010, 15:46 WIB
Arfi Bambani Amri
George W Bush (kiri) bertemu Barack Obama di Gedung Putih (AP Photo/The White House, Eric Draper)
VIVAnews - Anggota Komisi Luar Negeri Dewan Perwakilan Rakyat, Hidayat Nur Wahid, meminta pemerintah berperan aktif dalam pengamanan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Hidayat berharap pengamanan Obama tidak seperti Presiden pendahulunya, George W Bush.
Hidayat Nur Wahid memaparkan hendaknya pengamanan tidak diserahkan semua kepada pihak Amerika Serikat. Hal tersebut dirasa menghilangkan kedaulatan Indonesia sebagai negara.
“Kedatangan Obama jangan sampai mengulangi perilaku Bush yang dua kali datang ke Indonesia pada masa pemerintahan Megawati dan SBY, yang mana kunjungan itu menghilangkan beberapa kedaulatan," kata Hidayat. "Pasalnya, sepenuhnya keamanan diurusi oleh Amerika,” katanya di Solo, Sabtu, 13 Maret 2010.
Selanjutnya, Hidayat Nur Wahid mengatakan saat kedatangan Bush, pengamanan seperti metal detector, protokoler dan pengamanan dilakukan Amerika. Kondisi seperti itu membuat Indonesia menjadi negara tidak berdaulat.
“Biarlah Indonesia yang mengelola keamanan kedatangan tamu negara. Pasalnya, seperti kepala negara China, Inggris dan negara lainnya juga diurusi oleh Indonesia. Jika Obama memberikan pengamanan kepada Indonesia maka akan menjadi bermartabat,” ujar mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera itu.
Hendaknya dengan kedatangan Obama, tambah Hidayat Nur Wahid, dapat dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia untuk membuka kembali hubungan kerjasama diplomatik seperti halnya hubungan TNI dengan pemerintah Amerika Serikat yang mengalami kesulitan.
Laporan Fajar Sodiq | Solo
joe satria
14/03/2010
bukti ketakutan yang berlebihan akibat kejahatan perang dan standar ganda yang mereka lakukan selama ini.. tolak kedatangan obama
fei
14/03/2010
memang ngga usah lebay siich..percayakan anak bangsa untuk bertanggung jawab...klo ada teroris yg lolos beraksi, whua malunya negaraku..
bangsa kita mesti belajar i2 "reward and punishment"..
so semua lapisan masyarakat pasti akan lebih bertanggung jawab
yadi
14/03/2010
kita ini terlalu byk hiruk-pikuk yg membingungkan...pro dan kontra kedatangan tamu negara bikin rame...bisa gak pada diem, kerja, belajar, bikin suasana kondusif gitu..perekonomian jalan terus
tafik
13/03/2010
bukan gtu dev,kite mengingin kan dansus yg profesional dlm brtugas,bukan yg bntar-bntar maen dor lngsung koit.mereka cma 1,2,3 orang dnsus segambreng,mase iye kge bsa nangkep idup-idup.klo emang takut bsa dor kaki apa tangan pundak yg tdak mematikan,dngan
arruyataufik
13/03/2010
bener juga see seakan-akan mereka tdak percaya dngan pengamanan d indonesia,klau bsa jngan trlalu brlebihan,memangnya siapa dia.jangan takut putus hubungan diplomatik,jalin hubungan diplomatik dngan negara mislim saja,cma usul.
kita bangga punya Densus 88 Antiterror, Den Bravo, Denjaka dan Den Gultor 81, lantas apa lagi yang ditakutin ma para bule itu ???
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar