VIVAnews - Harga minyak mentah yang diperdagangan di bursa New York tetap bertahan di level US$82/barel kendati para investor menghadapi kekhawatiran atas naiknya inflasi di China. Inflasi itu bisa memaksa China memperketat aliran kredit dan permintaan komoditas, termasuk minyak mentah, di negara itu bisa berkurang.
Menurut laman harian The Wall Street Journal, berdasarkan transaksi Kamis sore waktu New York (Jumat dini hari WIB), harga minyak light sweet untuk kontrak April, dibanding sehari sebelumnya, naik 2 sen menjadi US$82,11/barel. Di bursa London, harga minyak Brent turun 30 sen (0,3 persen) menjadi US$80,28/barel.
Para investor di pasar minyak mulai dibayang-bayangi dampak atas kabar naiknya inflasi di China. Menurut laporan Kamis kemarin, indeks harga konsumen di Tiongkok Februari lalu naik 2,7 persen. Jumlah ini lebih besar dari proyeksi dan juga naik 1,2 persen dari data Januari lalu.
Muncul ekspektasi bahwa pemerintah China bakal memperketat kebijakan moneter dan menaikkan tingkat suku bunga untuk mengandalikan inflasi sekaligus mencegah ekonomi tumbuh terlalu pesat. Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa China - sebagai ekonomi yang paling berpengaruh dalam naiknya tingkat permintaan minyak dunia - akan membatasi permintaan minyak.
Tanda-tanda ini mulai terihat. Menteri Perdagangan Chen Deming menyatakan kepada rapat di parlemen bahwa China menghadapi tekanan-tekanan inflasioner dari naiknya harga komoditas internasional. Maka China akan memantau secara dekat harga-harga impor.
"Data inflasi itu lebih tinggi dari yang diperkirakan China dan bisa memicu pengetatan kebijakan moneter yang dapat berdampak pada permintaan energi," kata John Kilduff, pengamat dari Round Earth Capital di New York kepada Wall Street Journal. "Situasi itu bisa mencegah harga minyak naik lebih tinggi," lanjut Kilduff.