Dunia

Wall Street Lanjutkan Reli Indeks Harga Saham

Dipicu kabar positif dari sektor perbankan dan tenaga kerja di Amerika Serikat

Jum'at, 12 Maret 2010, 07:50 WIB
Renne R.A Kawilarang
  (AP Photo/Richard Drew)

VIVAnews - Indeks-indeks harga saham di bursa Wall Street berhasil memperpanjang reli dalam tiga hari terakhir. Kenaikan indeks terkini dipicu oleh kabar dari sektor perbankan dan tenaga kerja di Amerika Serikat (AS).

Di akhir transaksi Kamis sore waktu New York (Jumat dini hari WIB), indeks harga saham industri Dow Jones naik 44,51 poin (0,4 persen) menjadi 10.611,84. Indeks Standard & Poor's 500 menguat 4,63 poin (0,4 persen) menjadi 1.150,24. Begitu pula dengan indeks komposit Nasdaq, naik 9,51 poin (0,4 persen) menjadi 2.368,46.

Saham perbankan memimpin kenaikan harga setelah Kepala Eksekutif Korporat (CEO) Citigroup Inc., Vikram Pandit,  mengungkapkan bahwa perusahaannya tetap berada di jalur menuju "profitabilitas berkelanjutan" berkat penjualan aset-aset berisiko.

Citigroup merupakan bank yang paling telak terkena krisis keuangan. Itulah sebabnya, penilaian dari Pandit itu turut mempengaruhi sentimen pasar dalam memproyeksikan situasi ekonomi di AS. Saham Citigroup pun naik 5,6 persen.

Para investor juga menyambut baik laporan dari Departemen Tenaga Kerja AS bahwa jumlah pemohon baru tunjangan pengangguran, untuk kali pertama, pada pekan lalu turun 6.000 orang menjadi 462.000 orang. Jumlah itu sedikit lebih kecil dari prediksi para ekonom yang disurvei Thomson Reuters.

Laporan itu menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja mulai pulih. Namun para investor belum melihat data naiknya jumlah perekrutan tenaga kerja.

Para investor berharap bahwa laporan pengangguran yang diumumkan akhir pekan lalu - yang menunjukkan bahwa tingkat pengangguran Februari lalu tetap di level 9,7 persen - bisa menjadi momentum positif bagi sektor lapangan kerja di AS.

Dua laporan itu mampu membuat para investor sedikit meredakan kekhawatiran mereka atas naiknya inflasi di China Februai lalu. Mereka khawatir bahwa naiknya inflasi itu bisa memaksa Bank Sentral China menaikkan tingkat suku bunga.

Efeknya, tingkat permintaan impor dan aliran kredit di China bisa berkurang dan ini dapat berpengaruh pada eksportir manca negara. Pengetatan kebijakan di China pun bisa mengganggu pemulihan ekonomi di banyak negara.

Jim Dunigan, pialang di PNC Wealth Management, berharap bahwa China akan mampu mengendalikan tingkat inflasi sehingga tidak terus naik. "Kita akan melihat tanda-tanda inflasi dari sini namun menurut saya untuk sementara waktu tidak akan ada masalah," kata Dunigan. (Associated Press)
   
   

• VIVAnews
Rating
Komentar
Penny Oil Stocks
12/03/2010
Ada pengaruh positif gak ya buat Indonesia? Penny Oil Stocks
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ