VIVAnews - Seorang anggota parlemen Australia tampak tertidur saat berlangsung pidato bersejarah oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Parlemen Federal, Canberra, Rabu 10 Maret 2010.
Tingkah anggota parlemen dari Partai Liberal yang kemudian diketahui bernama Peter Slipper tersebut pertama kali tertangkap oleh para wartawan dari ruang pers. Para wartawan segera mengambil telepon selular masing-masing dan sibuk berkomunikasi melalui situs sosial.
Seperti dikutip dari laman surat kabar Sunshine Coast Daily, salah seorang jurnalis dari sebuah stasiun radio Sydney mengumumkan peristiwa tersebut melalui akun Twitter dengan menuliskan: "Ada seorang anggota parlemen dari Liberal tidur saat pidato SBY..."
Jurnalis kedua kemudian memberikan informasi tambahan, juga melalui akun situs sosial, bahwa politisi tidur itu adalah anggota Fisher, salah satu divisi di Parlemen Australia. Seorang wartawan lain merespon dengan menuliskan: "Peter Slipper terbangun karena tepuk tangan SBY". Sedangkan foto Slipper yang sedang tidur, yang diambil dari kamera telepon selular, dikirim melalui pos tanpa alamat pengirim ke surat kabar Sunshine Coast Daily, Rabu sore.
Slipper menyangkal dia terlelap saat seorang tamu dari mancanegara memberikan pidato. Namun dia tidak menyangkal bahwa mungkin dia sempat sejenak menutup mata. "Saya tidak tidur. Saya tidak bilang kalau saya tidak menutup mata saya," kata Slipper. "Kalau saya tahu ada kamera, saya tidak menutup mata saya," tambahnya dan mengatakan bahwa pidato Yudhoyono sangat luar biasa.
Slipper mengatakan, dia siap diuji mengenai isi pidato Yudhoyono. Menurutnya, Yudhoyono menegaskan bahwa Australia dan Indonesia adalah negara tetangga dan teman, dan sebaiknya bersinergi.
"Dia sangat menekankan fakta bahwa ketika kita (Australia) membutuhkan mereka (Indonesia), mereka ada, dan ketika mereka membutuhkan kita, kita juga akan ada," kata Slipper. "Saya merasa sangat istimewa bisa mendengar pidato pertama di parlemen oleh seorang pemimpin Indonesia," tambahnya lagi.
Pidato Yudhoyono merupakan pidato pertama oleh presiden Indonesia di hadapan parlemen Australia. Isi pidato itu antara lain bahwa Indonesia sedang memperkuat hukum mengenai penyelundupan manusia, menjebloskan para pelaku penyelundupan manusia ke penjara dengan hukuman hingga lima tahun.
Yudhoyono juga menyinggung mengenai kesalahan orang Indonesia dan Australia karena memiliki stereotip buruk satu sama lain, kesalahan yang perlu diperbaiki bila kedua negara ingin meningkatkan hubungan bilateral.