VIVAnews - Ada-ada saja ulah oposisi Australia dalam mengritik pemerintah yang sedang berkuasa. Bahkan saat acara kenegaraan resmi pun, Tony Abbott, pemimpin oposisi Australia, menyentil PM Kevin Rudd.
"Meskipun pemerintah menerbitkan peringatan berkunjung ke Indonesia dengan alasan keamanan, saya tetap berkunjung ke Bali sebagai turis pada tahun 2005," kata Abbott, seperti yang dikutip wartawan ANTV-VIVAnews, Uni Z. Lubis. Tony Abbot juga mengunjungi Indonesia pada tahun berikutnya.
Saat itu, Abbott memberikan sambutan di acara makan siang kenegaraan untuk menyambut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Gedung Parlemen di Canberra, di Gedung Parlemen Australia, Rabu 10 Maret 2010.
Pemimpin kubu oposisi dari Partai Liberal itu merujuk kepada kebijakan Pemerintah Australia, yang kerap memberlakukan peringatan berkunjung (travel warning) ke Indonesia dengan alasan keamanan, terutama ancaman bom. Kebijakan ini pun masih diberlakukan di masa pemerintahan Partai Buruh, yang dipimpin Rudd kendati dia memuji prestasi Indonesia dalam melumpuhkan jaringan teroris.
Sentilan Abbott berlanjut. Sesudah pembukaan dari Ketua DPR Harry Jenkins, lalu sambutan PM Rudd, kembali Abbott berpidato sebagai pemimpin oposisi. Dalam pidatonya Abbott mengatakan akan meminta pemerintahan Rudd agar kian serius meningkatkan kerjasama dengan Indonesia.
"Lebih baik meningkatkan hubungan bilateral ketimbang mencoba menggolkan urusan Asia Pacific Community," kata Abbott. Dia menyindir pembentukan forum Komunitas Asia Pasifik yang tengah digagas Rudd.
Koran lokal yang terbit Rabu kemarin memuat "bocoran" percakapan telpon dan upaya Rudd mengajak Yudhoyono memprakarsai pembentukan komunitas baru kerjasama regional itu. Yudhoyono diberitakan kurang antusias menyambut gagasan itu dan memilih memperkuat kerjasama melalui kerangka ASEAN.
Saat acara di Parlemen, posisi duduk Rudd dan Abbot berhadapan, hanya dipisahkan oleh meja selebar 2 meter.