Dunia

Lagi, Saham di Wall Street Sedikit Menguat

Investor cenderung masih menunggu laporan yang memiliki pengaruh besar

Kamis, 11 Maret 2010, 07:13 WIB
Renne R.A Kawilarang
  (AP Photo/Richard Drew)

VIVAnews - Indeks-indeks harga saham di bursa Wall Street melanjutkan kenaikan setelah pemerintah Amerika Serikat (AS) melaporkan turunnya rata-rata stok produk perusahaan. Namun, seperti sehari sebelumnya, kenaikan itu tidak signifikan.

Di akhir transaksi Rabu sore waktu New Yok (Kamis dini hari WIB), indeks harga saham industri Dow Jones naik 2.95 poin (kurang dari 0,1 persen). Indeks Standard & Poor's 500 menguat 5,16 poin (0,5 persen) menjadi 1.145,61. Begitu pula dengan indeks komposit Nasdaq, naik 18,27 poin (0,8 persen) menjadi 2.358,95 - tertinggi dalam 18 bulan terakhir.

Lemahnya pergerakan indeks dalam dua hari terakhir disebabkan para investor cenderung masih menunggu laporan yang memiliki pengaruh besar bagi penguatan ekonomi AS.

Namun, para investor cukup antusias mendengar data terkini dari Departemen Perdagangan bahwa tingkat persediaan barang para produsen Januari turun 0,2 persen, setelah sebulan sebelumnya juga turun 1 persen.

Di saat yang sama, tingkat penjualan produsen awal tahun ini pun naik 1,3 persen. Ini merupakan kenaikan 10 kali berturut-turut. Data stok dan penjualan para produsen ini menandakan bahwa mereka mulai membongkar gudang untuk memenuhi permintaan produk dan harus mulai menimbun stok lagi. 

Laporan ini cukup membuat indeks-indeks di Wall Street mempertahankan reli, walau persentasenya kecil. Para investor di Wall Street sudah dibuat antusias setelah Jumat pekan lalu mengetahui bahwa jumlah PHK Februari lalu tidak sebesar perkiraan dan tingkat pengangguran di bulan itu sama dengan Januari lalu.
 
Kini, para investor masih menunggu kabar-kabar besar, diantaranya laporan mingguan jumlah pemohon tunjangan pengangguran, tingkat penjualan ritel, dan indeks sentimen konsumen, yang akan dipublikasikan dalam beberapa hari mendatang.

Para investor pun juga was-was menjelang laporan inflasi di China, yang akan diumumkan hari ini. Muncul spekulasi bahwa laporan itu bisa menunjukkan bahwa harga-harga di China naik secara pesat bersamaan dengan pesatnya laju pertumbuhan ekonomi di Tiongkok.

Bila harga naik, Bank Sentral China kemungkinan akan menaikkan tingkat suku bunga. Bila suku bunga naik, permintaan impor di China bisa berkurang dan ini berisiko menghambat pemulihan ekonomi global. (Associated Press) 



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ