VIVAnews - Harga minyak mentah untuk perdagangan di Asia tetap bercokol di US$81 per barel setelah hanya menguat sedikit. Pergerakan harga yang cenderung stagnan ini mengikuti pergerakan indeks harga saham di sejumlah bursa utama Asia, yang cenderung datar.
Berdasarkan transaksi elektronik dari bursa New York, Rabu siang waktu Singapura, harga minyak light sweet untuk kontrak April naik 5 sen menjadi US$81,54 per barel. Pada transaksi di New York dini hari tadi, harga minyak turun 38 sen menjadi US$81,49 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent hari ini naik 9 sen menjadi US$80,00 di bursa London.
Harga minyak menguat sekitar 17 persen sejak awal bulan lalu karena meningkatnya kepercayaan investor pada pertumbuhan ekonomi global tahun ini. Namun permintaan minyak mentah dari AS, konsumen terbesar minyak dunia, masih tetap lemah.
Sementara itu dua hasil survei memaparkan proyeksi beragam atas persediaan mingguan minyak di AS. Menurut data dari The American Petroleum Institute, inventaris minyak mentah naik sebesar 6,5 juta barel.
Sebaliknya, para pengamat yang disurvei Platts memperkirakan penurunan stok sebesar 1,6 juta barel. Sedangkan para investor minyak masih menunggu laporan resmi dari pemerintah AS Rabu pagi waktu Washington DC (malam WIB). (Associated Press)