Dunia

Dolar Menguat, Minyak Menjauh dari US$82

Naiknya dolar atas euro membuat transaksi minyak mentah bagi investor jadi lebih mahal

Rabu, 10 Maret 2010, 08:03 WIB
Renne R.A Kawilarang
Kilang Minyak di Pancevo Serbia (AP Photo)

VIVAnews - Harga minyak mentah di bursa New York sejak akhir pekan lalu terus berkutat di level US$81/barel. Namun harga belum bisa mencapai US$82/barel setelah mencapai penurunan akibat menguatnya kurs dolar dan jelang pertemuan antara pemimpin Amerika Serikat (AS) dan Yunani.

Pada transaksi Selasa sore waktu New York (Rabu dini hari WIB), harga minyak light sweet untuk kontrak April turun 38 sen menjadi US$81,49/barel. Tadinya, harga minyak sempat anjlok menjadi US$80,16/barel. Di bursa London, harga minyak Brent turun 56 sen menjadi US$79,91/barel.

Pengamat dari Tradition Energy, Addison Armstrong, menilai bahwa melemahnya harga disebabkan menguat kurs dolar atas euro. Selain itu para investor menunggu hasil pertemuan antara Presiden AS, Barack Obama, dengan Perdana Menteri Yunani menyangkut krisis utang di negara Eropa itu.

Phil Flynn dari PFGBest menyatakan bahwa laporan bahwa China kemungkinan akan berhenti membakukan kurs yuan atas dolar turut mendorong naiknya nilai mata uang AS itu. "Ini juga membuat harga minyak kembali turun," kata Flynn.

Pasalnya, bagi investor pemegang mata uang lain, menguatnya dolar membuat transaksi minyak mentah di mata mereka menjadi lebih mahal. Investor pun masih menunggu laporan mingguan dari Departemen Energi AS mengenai persediaan minyak mentah, yang akan diumumkan Rabu pagi waktu Washington DC.

Bila persediaan tetap saja naik, harga minyak mentah bisa kembali turun. (Associated Press)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ