Dunia

Saham di Wall Street Sedikit Menguat

Kenaikan saham dipengaruhi oleh rumor bahwa pemerintah AS melarang transaksi short sale

Rabu, 10 Maret 2010, 07:29 WIB
Renne R.A Kawilarang
  (AP Photo/Alastair Grant)

VIVAnews - Pergerakan indeks-indeks harga saham di bursa Wall Street cenderung stagnan saat para investor memperingati setahun anjloknya saham ke rekor terendah dalam 12 tahun terakhir. Kendati kini sedikit menguat, indeks harga saham di Wall Street diharapkan terus mempertahankan momentum kebangkitan.

Di akhir transaksi Selasa sore waktu New York, indeks harga saham industri Dow Jones naik 11,86 poin (0,1 persen) menjadi 10.564,38. Namun Dow masih 25 persen lebih rendah dari rekor tertinggi yang dibuat pada Oktober 2007, yaitu 14.164,53 poin.

Indeks Standard & Poor's 500 menguat 1,95 poin (0,2 persen) menjadi 1.140,45. Dalam setahun terakhir indeks ini sudah naik 68,6 persen, namun masih kurang 27 persen untuk menyamai rekor tertinggi yang dibuat Oktober 2007, yaitu 1.565,15.

Begitu pula dengan indeks komposit Nasdaq, naik 8,47 poin (0,4 persen) menjadi 2.340,68. Nasdaq kini mencapai rekor tertinggi dalam 18 bulan terakhir, namun masih lebih dari 50 persen berada di belakang rekor tertinggi yang diukir 10 tahun lalu, yaitu 5.048,62 poin ketika menikmati gelembung bisnis dot-com.

Menurut pengamat, kenaikan saham dipimpin oleh perusahaan-perusahaan keuangan. Ini akibat reaksi investor yang melakukan aksi borong setelah mendengar rumor bahwa pemerintah AS kemungkinan melarang perdagangan yang dikenal sebagai penjualan jangka pendek (short sales) atas saham perusahaan yang dimiliki sendiri.

Pemerintah AS pun masih memiliki saham mayoritas di sejumlah perusahaan keuangan terkemuka, diantaranya Citigroup Inc., American International Group Inc., dan dua perusahaan pembiayaan perumahan, yaitu Fannie Mae dan Freddie Mac. Mereka semua mendapat pinjaman talangan dari pemerintah selama krisis keuangan 2008.

Setelah mengalami pukulan telak saham perusahaan-perusahaan keuangan mulai bangkit sejak 10 Maret tahun lalu. Saat itu, Citigroup yang dikenal sebagai bank besar yang rugi paling banyak akibat krisis kredit dan resesi, mengaku mulai kembali mendapatkan laba. Selain itu pasar keuangan menunjukkan tanda-tanda mulai pulih.

Tahun lalu, berita-berita demikian cukup menimbulkan harapan besar bagi para investor di Wall Street sehingga harga saham kembali bangkit. Kini, saat harga saham terus naik, para investor pun ingin bukti-bukti lanjutan dari pemulihan ekonomi AS.

"Besarnya laba yang telah kita nikmati merupakan antisipasi dari kemajuan ekonomi yang justru belum terjadi," kata Lawrence Creatura, manajer portofolio dari Federated Clover Investment Advisors.
   
Bukti kuat yang ditunggu investor saat ini adalah pulihnya sektor tenaga kerja disertai dengan turunnya angka pengangguran, yang pada Februari lalu bisa terhenti pada 9,7 persen.

Adam Gould, manajer portofolio dari Direxion Funds di New York, mengaku ingin melihat setidaknya selama dua bulan berturut-turut tingkat lapangan kerja di AS naik dan tingkat pengangguran bisa ditekan hingga di bawah 9 persen sehingga bisa kian mempercepat pemulihan.

Selain itu, para investor ingin melihat lebih jauh lagi pemulihan di pasar perumahan. Para trader sudah cukup toleran atas beberapa penurunan terakhir tingkat penjualan rumah. Namun, bila angka-angka itu tidak kunjung naik, mereka akan kian gelisah. (Associated Press)

 



• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ