VIVAnews - Indonesia tidak perlu berharap berlebihan terhadap kunjungan Presiden Barack Obama. Demikian dikatakan mantan perwakilan tetap RI di PBB yang kini menjadi dosen program studi Hubungan Internasional Universitas Paramadina.
"Kita sebaiknya memanfaatkannya secara realistis, jangan terlalu punya harapan yang berbunga-bunga terhadap hubungan Indonesia-Amerika Serikat (AS)," kata Makarim usai Seminar Kajian dan Prediksi Politik Luar Negeri dan Diplomasi Indonesia di Universitas Paramadina, Jakarta, Senin 8 Maret 2010.
Makarim memberikan contoh bagaimana sikap realistis itu. "Misalnya AS sekarang masih memiliki tingkat pengetahuan dan teknologi tinggi, maka pada tempatnyalah jika kita ingin ada alih teknologi," kata Makarim.
Contoh lain, AS sampai sekarang merupakan suatu kekuatan politik dan militer yang besar, maka pada tempatnya juga lah Indonesia juga mengusahakan adanya manuver kebijakan yang menciptakan stabilitas di Asia Tenggara "Karena kalau Asia Tenggara tidak stabil, maka usaha kita membangun Indonesia sudah tidak mungkin lagi," lanjutnya.
Namun Makarim tidak menampik kenyataan bahwa Indonesia mulai diperhitungkan oleh AS. "Dia datang dengan membawa perhatian dunia, kedatangannya menarik lebih dari 800 wartawan. Kunjungannya dilakukan 14 bulan setelah pelantikannya, jadi dianggap sudah meletakkan dasar-dasar kebijakan luar negerinya," kata Makarim.
Karena sudah menetapkan akan berkunjung ke Indonesia, lanjut Makarim, berarti dalam skala prioritas AS, Indonesia memiliki makna khusus. "Indonesia memiliki hal-hal yang membuat mereka juga tertarik, karena kita negara demokratis ketiga terbesar di dunia dan negara Islam yang memiliki sifat moderat, dan lainnya," terangnya.
Makarim berharap, kedatangan Obama merupakan sebuah keuntungan timbal balik, bukan hanya Indonesia yang berharap banyak pada kunjungan itu, tapi AS juga. "Kita mengusahakan adanya kerjasama berdasarkan kesetaraan dan manfaat," kata Makarim. Dia menambahkan bahwa sebuah kunjungan itu diusahakan menghasilkan suatu produk, maka diusahakan agar Comprehensive Partnership Agreement Indonesia-AS selesai saat kunjungan, sehingga ada sesuatu yg menjadi tonggak dalam hubungan bilateral.