VIVAnews - Harga minyak mentah untuk perdagangan di Asia melanjutkan kenaikan yang terjadi pada Jumat pekan lalu. Kenaikan ini mengikuti menguatnya indeks harga saham di sejumlah bursa utama Asia dan menurunnya kurs dolar.
Berdasarkan transaksi elektronik dari bursa New York, Senin siang waktu Singapura, harga minyak light sweet untuk kontrak April naik 45 sen menjadi US$81,95/barel. Pada transaksi langsung dari New York Jumat pekan lalu, harga minyak naik US$1,29 menjadi US$81,50/barel.
Sama seperti reaksi para pelaku bursa saham, para investor pasar minyak turut antusias dengan laporan bulanan tingkat pengangguran di AS. Laporan itu baru diumumkan Jumat pagi pekan lalu waktu AS, atau Jumat malam waktu Asia saat bursa-bursa di kawasan itu telah memasuki libur akhir pekan.
Berdasarkan laporan bulanan dari Departemen Tenaga Kerja AS pekan lalu, tingkat pengangguran selama Februari 2010 tidak naik, tetap di level 9,7 persen. Selain itu, jumlah PHK bulan lalu hanya 36.000 kasus - lebih sedikit dari prediksi para ekonom, yaitu sebanyak 50.000 kasus.
Kendati masih naik dari data Januari (26.000 kasus), angka bulan lalu menandakan bahwa pasar tenaga kerja, yang menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi, mulai berkembang. Buktinya, laju tingkat pengangguran bulan lalu berhasil direm.
Para investor bursa minyak pun antusias atas kabar Jumat pekan lalu bahwa China berencana memperpanjang program stimulus dengan harapan bisa memenuhi pertumbuhan ekonomi tahun ini seperti yang ditargetkan Perdana Menteri Wen Jiabao, yaitu 8 persen.
Kenaikan harga minyak juga dipengaruhi turunnya kurs dolar atas yen dan euro. Di perdagangan valuta, kurs dolar atas yen turun dari 90,44 yen menjadi 90,40 yen per dolar. Dolar atas euro pun melemah dari US$1,3629 menjadi US$1,3684 per euro.
Di bursa London, harga minyak Brent naik 48 sen menjadi US$80,37 per barel. (Associated Press)