VIVAnews - Krisis pengangguran di Amerika Serikat (AS) tampaknya mulai mereda. Itu merupakan kabar baik bagi para pelaku pasar saham di Wall Street, New York.
Namun, masih banyak perusahaan yang enggan melakukan banyak perekrutan karena masih belum yakin dengan situasi ekonomi.
Berdasarkan laporan bulanan dari Departemen Tenaga Kerja AS pekan lalu, tingkat pengangguran selama Februari 2010 tidak naik, tetap di level 9,7 persen. Selain itu, jumlah PHK bulan lalu hanya 36.000 kasus - lebih sedikit dari prediksi.
Angka-angka itu menandakan bahwa pasar tenaga kerja di AS perlahan-lahan mulai pulih. Menurut sejumlah ekonom, tingkat pengangguran mungkin telah melewati masa puncak dan memprediksi bahwa laporan Maret nanti bisa menjadi momentum bertambahnya lapangan kerja.
"Akhirnya kita mulai berada di puncak pertumbuhan lapangan kerja," kata Stuart Hoffman, ekonom dari PNC Financial Service Group. Maka, laporan bulanan dari Departemen Tenaga Kerja membuat antusias para pelaku pasar saham Wall Street. Indeks harga saham industri Dow Jones pun Jumat pekan lalu naik 122 poin (1,2 persen).
Namun, jalan masih panjang. Resesi ekonomi di AS dalam dua tahun terakhir telah menghilangkan 8,4 juta pekerjaan. Pemulihan ekonomi yang berjalan lambat menandakan bahwa perekrutan tenaga kerja pun tidak berjalan cepat, setidaknya selama tahun ini.
Menurut statistik, sejak awal 2010 baru tersedia rata-rata 100.000 pekerjaan per bulan. Padahal, menurut pengamat, setidaknya dibutuhkan perekrutan rata-rata 125.000 tenaga kerja baru per bulan untuk mengimbangi laju pertumbuhan populasi dan mencegah naiknya kembali tingkat pengangguran di AS.
Untuk mengurangi pengangguran secara signifikan, pengusaha harus menciptakan 200.000 hingga 300.000 pekerjaan per bulan. Namun sebagian besar perusahaan masih mendukung kuatnya tingkat penjualan, lebih banyak lagi tingkat belanja konsumen dan bisnis, serta pemulihan ekonomi global yang lebih pesat untuk menstimulasi permintaan barang dan jasa di AS. (Associated Press)