VIVAnews - Ratusan ribu warga Irak di luar negeri mulai melakukan pemungutan suara menjelang hari pemungutan suara utama di Irak untuk memilih anggota parlemen Minggu, 7 Maret 2010 besok. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) urusan pengungsi memperkirakan sekitar dua juta warga Irak tinggal di mancanegara akibat invasi pasukan pimpinan Amerika Serikat (AS) ke Irak pada 2003.
Seperti dikutip dari laman stasiun televisi BBC, sebagian besar warga Irak yang meninggalkan negaranya tinggal di negara tetangga, Yordania dan Suriah. Hari Jumat juga merupakan hari terakhir kampanye di Irak yang diwarnai aksi kekerasan. Komisi pemilihan umum Irak mengatakan, tempat-tempat pemungutan suara terdapat di hampir 60 kota di berbagai negara.
Suara warga Irak di Yordania dan Suriah bisa sangat menentukan perolehan suara untuk pembentukan pemerintahan berikutnya. Kebanyakan dari para ekspatriat itu adalah pengungsi dan beberapa menentang pemimpin berkuasa, Perdana Menteri Nouri Maliki.
Dalam pemilihan ini, partai oposisi mendesak komunitas Irak di mancanegara untuk memberikan suara. Sejumlah warga Irak di Suriah mengritik Maliki karena tidak mempedulikian masalah mereka dan gagal melindungi kepulangan mereka ke tanah air, serta memperburuk kondisi sektarian di Irak.
Di antara ekspatriat Irak di Suriah, banyak yang anggota Sunni Arab dan mantan anggota Partai Baath pimpinan Saddam Hussein. Menurut mereka, terlalu berbahaya untuk kembali ke Irak di tengah kepemimpinan perdana menteri dari kelompok muslim Syiah.
Sementara itu, pengamanan di Irak diperketat. Lebih dari 200 ribu personel keamanan akan disebar di kota Baghdad. Penduduk dilarang bepergian ke kota lain. Kamis lalu, sedikitnya 14 orang tewas oleh pengebom bunuh diri yang menyerang dua tempat pemungutan di beberapa lokasi di Baghdad.
Sebelumnya, serangan mortir menewaskan tujuh orang. Sedangkan Rabu lalu, tiga serangan bunuh diri menyerang polisi dan sebuah rumah sakit di Baquba, kota di utara Baghdad dan menyebabkan sedikitnya 30 orang terbunuh.