VIVAnews - Pemerintah menilai kenaikan harga minyak mentah dunia yang menembus US$ 80 per barel belum sebagai risiko. Perkembangan harga minyak tersebut baru sebatas informasi dan masukan yang akan diteruskan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah saat ini masih tetap berpatokan bahwa harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar US$ 77 per barel.
"Jadi, perkembangan harga minyak yang sampai US$ 80 per barel ini akan jadi masukan pada pembahasan APBN Perubahan dengan DPR," kata Sri Mulyani di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat 5 Maret 2010.
"(Dari) angka ini kemudian apakah mereka (DPR) akan menganggap pergerakan itu sebagai risiko yang riil dan perlu dipertimbangkan untuk menaikkan asumsi harga minyak atau perlu diantisipasi dengan kebijakan lain," kata dia.
Harga minyak mentah di bursa New York untuk perdagangan Asia kini mendekati US$ 81 per barel menyusul penguatan indeks harga saham di sejumlah bursa utama Asia, Jumat 5 Maret 2010.
Penguatan indeks saham terjadi menjelang laporan bulanan tingkat pengangguran di Amerika Serikat.
Berdasarkan transaksi elektronik untuk perdagangan Asia, Jumat siang waktu Singapura, harga minyak light sweet untuk stok April naik 53 sen menjadi US$ 80,74 per barel.
Pada transaksi di New York dini hari tadi, harga minyak turun 66 sen menjadi US$ 80,21. Sedangkan harga minyak Brent di bursa London naik 52 sen menjadi US$ 79,06 per barel.
arinto.wibowo@vivanews.com