VIVAnews - Indeks harga saham di bursa-bursa utama Asia bergerak naik pada penutupan transaksi di akhir pekan ini. Sama seperti di Wall Street, para investor Asia memperlihatkan optimisme mereka bahwa laporan bulanan tingkat pengangguran di Amerika Serikat (AS) bisa menunjukkan hasil yang memuaskan.
Para investor di Jepang dan China pun menyambut baik atas perkembangan kebijakan dari pemerintah masing-masing.
Di akhir transaksi, indeks Nikkei 225 di Jepang naik 223,24 poin (2,2 persen) menjadi 10.368,96. Para investor di Jepang juga terpicu oleh laporan bahwa pemerintah akan menerapkan langkah-langkah ekstra untuk mempercepat pemulihan ekonomi. Menurut sebuah laporan, Bank Sentral Jepang pun berencana melonggarkan kebijakan moneter untuk memperlancar aliran uang dalam ekonomi.
Indeks Hang Seng di bursa Hong Kong mengalami kenaikan 0,9 persen menjadi 20.754,30 poin dan indeks di China naik 0,7 persen menjadi 3.043,25 saat para investor fokus pada pidato tahunan Perdana Menteri Wen Jiabao di pembukaan rapat tahunan Kongres Rakyat China.
Menurut Wen, pemerintah akan menaikkan anggaran belanja tahunan lebih dari dua kali lipat dari tahun sebelumnya, yakni sebesar 11,4 persen. Dia pun menargetkan pertumbuhan ekonomi China sebesar 8 persen pada tahun ini.
Di Korea Selatan (Korsel), indeks Kospi naik 0,9 persen menjadi 1.632,69. Kenaikan indeks harga saham juga melanda bursa di India, Taiwan, dan Singapura.
Menurut pengamat, para investor Asia juga menunggu dengan antusias laporan bulanan tingkat pengangguran yang diumumkan Departemen Tenaga Kerja AS, Jumat pagi waktu Washington DC (malam waktu Asia).
Seperti di Wall Street dini hari tadi, para investor di bursa-bursa Asia optimistis bahwa tingkat pengangguran di AS bulan lalu kemungkinan hanya dari 9,7 persen menjadi 9,8 persen.
Laporan tingkat pengangguran memang menjadi barometer penting bagi para investor saham dalam meraba sejauh mana pemulihan ekonomi AS. Pasalnya, bila tingkat pengangguran terus meningkat, kepercayaan konsumen pun tetap rendah sehingga mempengaruhi nilai belanja mereka. Padahal, belanja konsumen mempengaruhi 70 persen dari seluruh kegiatan ekonomi AS.
Dalam perdagangan valuta, kurs dolar atas yen naik dari 89,13 menjadi 89,27, begitu pula atas euro dari US$1,3580 menjadi US$1,3573. (Associated Press)